![]() |
| Trump dan Netanyahu di Kantor Oval. | WHITE HOUSE |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menyerukan rakyat Iran melakukan pemberontakan terhadap pemerintah mereka. Trump menekankan bahwa demonstran kemungkinan besar akan "dibantai habis" jika mengikuti ajakan tersebut, menurut laporan Axios.
Penolakan ini menunjukkan perbedaan mendasar antara Washington dan Yerusalem dalam pendekatan mereka terhadap konflik di Iran. Netanyahu berpendapat rezim Iran tengah dalam kekacauan dan saat ini merupakan momentum untuk mempercepat destabilisasi.
Trump menolak strategi itu, menilai kekuatan pasukan keamanan Iran membuat pemberontakan sipil hampir mustahil.
"Kenapa kita harus menyuruh orang-orang turun ke jalan kalau mereka cuma akan dibantai habis," kata Trump kepada Netanyahu dalam percakapan telepon minggu lalu, menurut seorang pejabat AS.
Kampanye militer AS-Israel terhadap Iran telah berlangsung sejak 28 Februari, dimulai dengan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan puluhan pejabat senior. Netanyahu mendorong perubahan rezim dan menyebut kemungkinan adanya komponen darat.
"Anda tidak bisa melakukan revolusi dari udara," ujar Netanyahu dalam konferensi pers pada 20 Maret, menambahkan bahwa perubahan politik juga memerlukan kehadiran di lapangan.
Trump menekankan bahwa pembunuhan pemimpin puncak Iran sendiri sudah merupakan bentuk tekanan terhadap rezim.
"Itu akan terjadi, tapi mungkin tidak segera," katanya di Fox News Radio pada 12 Maret, sambil menyoroti kemampuan pasukan keamanan Iran menindak protes dengan senapan mesin.
Di sisi diplomasi, pemerintahan Trump mengajukan proposal perdamaian 15 poin kepada Iran melalui Pakistan, dengan Mesir dan Turki sebagai perantara. Persyaratan mencakup pembatasan rudal dan penghentian program nuklir serta dukungan terhadap milisi regional. Iran menolak proposal tersebut, menyebut persyaratan itu "berlebihan dan terlepas dari realitas" konflik.
Setelah percakapan telepon, Netanyahu mengatakan Trump "percaya ada peluang" untuk mencapai tujuan perang melalui kesepakatan, sambil menegaskan bahwa serangan terhadap sasaran di Iran dan Lebanon tetap berlangsung. Konflik ini telah menewaskan lebih dari 2.400 orang dan mengganggu pasar minyak global akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

0Komentar