![]() |
| Sebuah rudal ditampilkan dalam pameran permanen di area rekreasi di Teheran utara, 24 Maret 2026. | AP PHOTO |
Rusia hampir menuntaskan pengiriman bertahap drone, obat-obatan, dan pasokan makanan ke Iran, menurut laporan intelijen Barat yang pertama kali dirinci Financial Times. Langkah ini menjadi indikasi paling jelas sejauh ini bahwa Moskwa memberi dukungan langsung ketika kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki minggu keempat.
Pengiriman disebut berlangsung setelah serangkaian pertemuan pejabat senior Rusia dan Iran sejak awal Maret, tak lama setelah serangan terkoordinasi AS-Israel pada 28 Februari. Keterlibatan Rusia dinilai meningkat tajam, dari sekadar berbagi informasi menjadi penyediaan perangkat militer.
Dari intelijen ke persenjataan
Sejumlah laporan media Barat menggambarkan eskalasi bertahap itu. The Washington Post lebih dulu melaporkan bahwa Rusia membagikan data lokasi kapal perang dan pesawat AS kepada pasukan Iran.
CNN kemudian menyebut adanya “nasihat spesifik tentang taktik drone”, dengan pejabat intelijen Barat mengatakan dukungan tersebut berkembang menjadi panduan operasional yang lebih terarah.
The Wall Street Journal pada 17 Maret melaporkan Rusia juga memasok komponen untuk memodifikasi drone Shahed milik Iran, termasuk peningkatan sistem komunikasi, navigasi, dan penargetan. Teknologi itu disebut memanfaatkan pengalaman tempur Rusia dalam perang di Ukraina.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey, usai pengarahan di markas militer Northwood, mengatakan ada pola taktik yang serupa.
“Tangan tersembunyi Putin ada di balik beberapa taktik Iran,” ujarnya, merujuk pada penggunaan drone terbang rendah yang sebelumnya diasah Rusia di Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 22 Maret menyatakan Kyiv memiliki “bukti tak terbantahkan” bahwa Rusia terus memasok intelijen ke Iran.
“Dengan membantu rezim Iran tetap bertahan dan menyerang dengan lebih akurat, Rusia secara efektif memperpanjang perang,” katanya.
Kremlin membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Dmitry Peskov menolak laporan Wall Street Journal sebagai “berita bohong”.
Bantuan kemanusiaan dan jalur logistik
Selain dukungan militer, Rusia juga mengirim lebih dari 300 metrik ton obat-obatan ke Iran, menurut Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran. Ketua lembaga itu, Pirhossein Kolivand, mengonfirmasi angka tersebut di televisi pemerintah.
Pengiriman awal sebanyak 13 ton dilakukan melalui Azerbaijan pada 12 Maret, disebut atas perintah Presiden Rusia Vladimir Putin. Rute itu dipilih untuk menghindari area konflik aktif.
Peran Tiongkok dan jaringan pendukung
Keterlibatan Tiongkok juga menguat. Sebuah laporan kepada Kongres AS menyebut Beijing membantu Iran mengurangi dampak sanksi global melalui jaringan perdagangan, akses ke teknologi, dan transaksi barang dual-use. Kapal Iran dilaporkan dapat memuat natrium perklorat—komponen bahan bakar roket padat—di pelabuhan Tiongkok setelah konflik dimulai.
Iran juga disebut memperoleh akses ke sistem navigasi satelit BeiDou milik Tiongkok, yang oleh analis dinilai meningkatkan akurasi serangan rudal dan drone.
Laporan Le Monde menambahkan, meski belum ada pengiriman senjata besar secara langsung, Rusia dan Iran telah menandatangani kontrak pada Desember untuk 500 peluncur pertahanan udara portabel Verba dan 2.500 rudal. Pengiriman diperkirakan dimulai pada 2027.
Untuk saat ini, kerja sama paling aktif terlihat pada teknologi drone—sebuah siklus yang berbalik arah sejak Iran memasok drone ke Rusia pada 2022, kini kembali ke Teheran dalam versi yang telah ditingkatkan dan diuji di medan tempur.

0Komentar