Presiden AS Donald Trump berbicara sebelum menandatangani perintah eksekutif di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 30 Januari 2026. | AFP


Presiden Donald Trump mengkritik rencana Inggris menyiapkan kapal induk HMS Prince of Wales untuk kemungkinan pengerahan ke Timur Tengah, dengan mengatakan Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan dukungan militer tambahan setelah konflik dengan Iran.

Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan Washington telah “menang” dalam perang melawan Iran dan menyindir langkah London yang baru mempertimbangkan pengiriman kapal induk. Pernyataan itu muncul setelah pemerintah Inggris mempercepat kesiapan pengerahan kapal tersebut.

“inggris Raya, sekutu hebat kami dulu, mungkin yang terhebat dari semuanya, akhirnya serius memikirkan untuk mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah,” tulis Trump. “Tidak apa-apa, Perdana Menteri Starmer, kami tidak memerlukan mereka lagi tapi kami akan mengingatnya. Kami tidak memerlukan orang yang bergabung dalam perang setelah kami sudah menang.”

Komentar itu datang setelah Kementerian Pertahanan Inggris memangkas waktu kesiapan pengerahan carrier strike group yang dipimpin oleh HMS Prince of Wales dari 10 hari menjadi lima hari. Laporan Sky News menyebut langkah tersebut diambil untuk meningkatkan kesiapan jika situasi keamanan di kawasan memburuk.

Seorang pejabat Inggris mengatakan belum ada keputusan final mengenai pengerahan kapal induk tersebut ke Timur Tengah.

Ketegangan ini menyoroti perbedaan sikap antara Washington dan London sejak konflik AS–Iran meningkat menyusul serangan militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer awalnya menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam operasi ofensif. Dua fasilitas yang dipersoalkan adalah pangkalan udara RAF Fairford di Gloucestershire dan pangkalan militer Diego Garcia di Samudra Hindia.

Dalam pernyataan di parlemen, Starmer mengatakan saat itu ia tidak melihat dasar hukum yang sah untuk operasi tersebut. Namun pada 1 Maret ia mengubah keputusan dan mengizinkan pasukan AS menggunakan fasilitas Inggris untuk serangan yang ia sebut sebagai “defensif” terhadap depot dan peluncur rudal Iran.

“Presiden Trump telah menyuarakan ketidaksetujuannya dengan pilihan kami untuk abstain dari serangan awal, tetapi adalah tanggung jawab saya untuk menilai apa yang menguntungkan kepentingan nasional Inggris,” kata Starmer kepada anggota parlemen.

Trump sebelumnya juga menuding pemerintah Inggris “sangat, sangat tidak kooperatif” dan mengatakan Starmer “bukan Winston Churchill”.

Ketegangan diplomatik itu terjadi ketika ancaman keamanan terhadap instalasi militer Inggris meningkat di kawasan. Pada 1 Maret, sebuah drone tipe Shahed yang diluncurkan dari Lebanon oleh kelompok militan Hezbollah menghantam hangar di pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus.

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan serangan tersebut menyebabkan kerusakan ringan dan tidak menimbulkan korban jiwa. Downing Street kemudian meralat laporan awal yang menyebut drone itu menghantam landasan pacu.

Sebagai respons, pemerintah Inggris mengirim kapal perusak pertahanan udara HMS Dragon ke Mediterania timur untuk memperkuat perlindungan di sekitar pangkalan tersebut. Kapal itu dilengkapi sistem rudal Sea Viper untuk menghadapi ancaman udara.

Beberapa negara sekutu Eropa juga meningkatkan kehadiran militer di kawasan. Yunani dan Prancis dilaporkan mengirim kapal perang dan jet tempur untuk membantu memperkuat pertahanan udara di Siprus.

Di tengah perdebatan tersebut, mantan perdana menteri Inggris Liz Truss membagikan ulang pernyataan Trump di platform X dan menyebutnya sebagai komentar yang “berdasar dan sangat mengecam”.