![]() |
| Terminal ekspor minyak di Pulau Kharg, Iran, yang menangani sebagian besar pengiriman minyak mentah negara tersebut. | WIKIMEDIA COMMONS |
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan rencana untuk menyita Pulau Kharg, fasilitas ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia, ketika operasi militer gabungan AS–Israel terhadap Teheran memasuki minggu kedua.
Pulau tersebut memegang peran vital bagi perekonomian Iran karena menjadi titik utama pengiriman minyak mentah negara itu ke pasar global. Menurut laporan Axios, sekitar 90% ekspor minyak Iran melewati fasilitas di pulau tersebut.
Pembahasan mengenai langkah penyitaan ini disebut berlangsung di internal Gedung Putih dan melibatkan sejumlah pejabat yang mengetahui rencana tersebut.
Pulau Kharg terletak sekitar 30 kilometer dari pesisir selatan Iran dan merupakan satu-satunya terminal negara itu yang mampu memuat kapal tanker minyak berukuran sangat besar. Kendali atas fasilitas tersebut dipandang berpotensi memukul sumber utama pendapatan pemerintah Iran.
Direktur eksekutif National Energy Dominance Council di Gedung Putih, Jarrod Agen, mengisyaratkan arah pemikiran pemerintahan Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox Business. Ia mengatakan pemerintah ingin mengambil alih cadangan minyak Iran dari kelompok yang mereka sebut sebagai pihak yang bermusuhan dengan Washington.
“Yang ingin kami lakukan adalah mengambil cadangan minyak yang sangat besar di Iran dari tangan teroris,” kata Agen. “Pada akhirnya, kami tidak perlu khawatir lagi tentang masalah-masalah di Selat Hormuz karena kami akan mengambil semua minyak dari tangan teroris.”
Dalam wawancara yang sama, Agen juga membandingkan kemungkinan langkah tersebut dengan intervensi AS di Venezuela, yang menurutnya berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan pengalihan operasi minyak kepada perusahaan energi Amerika.
Pernyataan itu menjadi salah satu indikasi paling terbuka dari pejabat pemerintahan mengenai kemungkinan langkah Washington terhadap infrastruktur energi Iran.
Sejumlah analis kebijakan luar negeri di Washington juga menilai Pulau Kharg memiliki nilai strategis tinggi. Michael Rubin, peneliti senior di American Enterprise Institute, mengatakan penguasaan pulau tersebut dapat membatasi kemampuan finansial pemerintah Iran.
“Kendalikan pulau itu, dan Anda pada dasarnya mencekik sumber pendapatan pemerintah Iran serta kemampuan mereka membiayai operasi militer,” ujarnya kepada The Washington Post.
Pembahasan mengenai Pulau Kharg berlangsung di tengah diskusi yang lebih luas di pemerintahan Trump mengenai kemungkinan pengerahan pasukan darat terbatas ke wilayah Iran.
Menurut laporan NBC News, Trump disebut telah menyatakan “ketertarikan serius” dalam percakapan internal untuk mengirim pasukan ke Iran, meskipun bukan dalam bentuk invasi militer berskala besar.
Seorang pejabat senior AS yang berbicara kepada Axios mengatakan konsep “boots on the ground” yang dibicarakan tidak merujuk pada pengerahan pasukan dalam jumlah besar.
“Boots on the ground bagi Trump tidak sama artinya dengan yang dipahami media,” kata pejabat tersebut. “Operasi pasukan khusus kecil, bukan kekuatan besar yang masuk.”
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan presiden tetap mempertahankan berbagai opsi militer.
“Presiden dengan bijak menjaga semua opsi tetap terbuka baginya, dan tidak mengesampingkan hal-hal tertentu,” ujarnya.
Konflik yang sedang berlangsung bermula dari serangan militer terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Eskalasi itu memicu respons dari Teheran, termasuk langkah yang secara efektif menghentikan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Gangguan terhadap jalur energi tersebut segera berdampak pada pasar global. Harga minyak melonjak setelah lalu lintas tanker di salah satu jalur perdagangan energi tersibuk di dunia itu terganggu.
Mantan utusan khusus AS Keith Kellogg juga secara terbuka mendorong langkah untuk melumpuhkan fasilitas di Pulau Kharg. Dalam wawancara dengan Fox News, ia mengatakan dampaknya terhadap ekonomi Iran akan sangat besar.
“Jika Anda melumpuhkan pulau itu, itu setara dengan 80% hingga 90% dari penggunaan minyak bumi Iran,” katanya. “Anda pada dasarnya melumpuhkan mereka secara ekonomi.”

0Komentar