Serangan roket besar-besaran dari kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, menghantam wilayah utara Israel pada Rabu (11/3), memicu serangan udara balasan Israel ke Lebanon dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan tersebut.
Militer Israel menyebut sedikitnya 150 roket ditembakkan ke wilayah utara negara itu dalam satu gelombang serangan, menjadikannya salah satu serangan terbesar sejak pertempuran antara Israel dan Hezbollah kembali pecah pada 2 Maret.
Sirene peringatan berbunyi di berbagai kota, mendorong ratusan ribu warga mencari perlindungan. Wilayah yang terdampak mencakup kawasan Galilea hingga kota besar seperti Haifa dan Tel Aviv.
Serangan tersebut berlangsung hampir bersamaan dengan peluncuran rudal balistik oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dari Iran yang menargetkan Israel bagian tengah.
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Iran Tasnim, IRGC menggambarkan operasi itu sebagai “operasi bersama dan terintegrasi”. Menurut mereka, sejumlah rudal balistik diluncurkan dari Iran sementara Hezbollah mengerahkan drone dan roket terhadap lebih dari 50 target di Israel.
Militer Israel mengatakan sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Namun sejumlah roket yang ditembakkan dari Lebanon tetap mencapai wilayah Israel utara.
Dua orang dilaporkan mengalami luka ringan di kota Bi’ina setelah salah satu roket menghantam area tersebut.
Serangan awal disebut dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat ketika sekitar 100 roket ditembakkan hampir bersamaan dengan peluncuran rudal dari Iran.
Israel merespons dengan serangkaian serangan udara ke Lebanon. Israel Defense Forces (IDF) menyebut operasi tersebut sebagai serangan “ekstensif” yang menargetkan peluncur roket serta infrastruktur milik Hezbollah.
Serangan juga menghantam pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai Dahiyeh, kawasan yang lama dianggap sebagai basis utama Hezbollah.
Kantor berita negara Lebanon National News Agency melaporkan sedikitnya enam serangan udara besar mengguncang wilayah tersebut.
Menurut IDF, lebih dari 70 target diserang di Beirut selatan selama operasi berlangsung, termasuk puluhan bangunan bertingkat yang menurut Israel digunakan oleh Hezbollah.
Ketegangan meningkat ketika seorang pejabat keamanan senior Israel memberi sinyal bahwa operasi militer di Lebanon dapat diperluas secara signifikan.
Stasiun televisi Israel Channel 12 melaporkan pemerintah Israel juga menyampaikan pesan kepada Beirut melalui Amerika Serikat dan sejumlah perantara Barat. Pesan itu memperingatkan bahwa Israel dapat menargetkan infrastruktur nasional Lebanon jika pemerintah negara tersebut gagal menahan aktivitas Hezbollah.
“Jika Lebanon tidak sadar dan menghentikan Hezbollah, kami akan menyerang infrastruktur sipil, sesuatu yang selama ini tidak dilakukan Israel,” kata pejabat tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, surat kabar Israel Israel Hayom melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberikan persetujuan terhadap rencana operasi darat Israel di Lebanon.
“Kita harus menyingkirkan Hezbollah. Mereka telah mendatangkan bencana selama bertahun-tahun,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, menurut laporan tersebut.
Di Lebanon, jumlah korban terus bertambah sejak konflik kembali pecah awal bulan ini.
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nasreddine mengatakan serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 634 orang, termasuk 91 anak-anak. Sebanyak 1.586 orang lainnya dilaporkan terluka.
Pemerintah Lebanon juga mencatat sekitar 816.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan sekitar 126.000 orang berlindung di pusat penampungan yang dikelola negara.
Pertempuran terbaru ini terjadi setelah Hezbollah menembakkan roket ke Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata November 2024. Kelompok itu menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam kampanye udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

0Komentar