![]() |
| Prabowo Subianto, Presiden RI. ANTARA FOTO |
Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan pembicaraan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pada Rabu (11/3), membahas eskalasi militer yang terjadi di Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut percakapan ini menyoroti dampak konflik terhadap perdamaian regional dan global.
Menurut pernyataan @KSAmofaEN di platform X, Prabowo menyerukan penghentian operasi militer di kawasan tersebut.
"Yang Mulia Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud menerima telepon hari ini dari Presiden Prabowo Subianto," tulis Kemenlu Saudi, menekankan tinjauan kedua pemimpin terhadap perkembangan terbaru.
Pembicaraan telepon ini merupakan bagian dari upaya diplomatik Indonesia menyusul serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai 28 Februari, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan memicu serangan balasan Iran terhadap instalasi militer AS di seluruh Teluk, termasuk di Arab Saudi.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengatakan panggilan ini telah direncanakan beberapa hari sebelumnya. Ia menyebut Prabowo telah menghubungi para pemimpin di kawasan Teluk, namun menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan putra mahkota. Sugiono juga melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan guna mendorong de-eskalasi.
Dalam percakapan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya upaya diplomatik intensif untuk mencegah memburuknya situasi.
"Kami berharap semua pihak dapat menahan diri dan mendorong dialog," kata Prabowo, menurut Kemenlu Saudi.
Sejak konflik meletus, Indonesia yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia menempatkan diri sebagai mediator potensial. Prabowo menyatakan kesediaannya untuk melakukan perjalanan ke Teheran jika diperlukan guna memfasilitasi dialog, sementara Kementerian Luar Negeri menegaskan kesiapan presiden untuk menjadi mediator jika kedua pihak menyetujuinya. Bloomberg melaporkan Pakistan dan Uni Emirat Arab mendukung upaya mediasi Indonesia.
Respons dari Teheran beragam. Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan apresiasi atas inisiatif Indonesia, namun menekankan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat dianggap tidak efektif. Ia mendorong negara-negara Muslim untuk menggalang dukungan melalui Organisasi Kerja Sama Islam dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Upaya diplomatik Indonesia datang di tengah ketidakstabilan Timur Tengah yang memengaruhi pasar energi global. Konflik tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas, sekaligus menambah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

0Komentar