Presiden Donald J. Trump berbicara dengan personel angkatan bersenjata pada hari Kamis, 26 November 2020, selama telekonferensi video Thanksgiving dari Ruang Resepsi Diplomatik Gedung Putih. | WEHITE HOUSE/SEALAH CRAIGHEAD


Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai masa depan kepemimpinan Iran memicu ketegangan baru setelah tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS–Israel pekan lalu. Trump mengatakan Washington perlu terlibat langsung dalam menentukan sosok yang akan menggantikan Khamenei.

Dalam sejumlah wawancara dengan Reuters, dan Politico, Trump menyampaikan pandangannya tentang Iran pasca-Khamenei. Ia secara terbuka menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menjadi pemimpin tertinggi berikutnya.

Serangan yang menewaskan Khamenei pada 28 Februari telah memicu transisi kepemimpinan kedua dalam sejarah Republik Islam Iran. Negara itu kini dipimpin oleh dewan sementara sambil menunggu keputusan Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi baru.

Trump menilai Mojtaba Khamenei tidak layak memimpin Iran dan memperingatkan bahwa kepemimpinan tersebut hanya akan memperpanjang konfrontasi dengan Washington.

“Mereka membuang-buang waktu. Putra Khamenei tidak berbobot,” ujar Trump kepada Axios dalam wawancara telepon, merujuk pada Mojtaba yang selama ini dipandang sebagai tokoh berpengaruh di kalangan garis keras dan Korps Pengawal Revolusi Islam.

Ia menambahkan bahwa Mojtaba “tidak dapat diterima” dan akan melanjutkan kebijakan ayahnya, yang menurut Trump bisa memaksa AS masuk ke “konflik bersenjata lain dengan Iran dalam lima tahun”.

Trump juga menyatakan dirinya ingin memainkan peran dalam menentukan kepemimpinan baru Iran.

“Saya harus terlibat dalam penunjukan pemimpin tersebut, seperti halnya dengan Delcy [Rodriguez] di Venezuela,” kata Trump kepada Axios, merujuk pada perubahan pemerintahan di Venezuela setelah penangkapan mantan presiden Nicolás Maduro oleh pasukan AS awal tahun ini.

Dalam wawancara terpisah dengan Politico, Trump menyebut keraguan terhadap kemampuan Mojtaba Khamenei sudah lama beredar di dalam lingkaran kekuasaan Iran.

“Alasan sang ayah tidak memberikannya kepada sang anak adalah karena mereka bilang dia tidak kompeten,” ujarnya.

Trump juga mengatakan ia akan memiliki “dampak besar” terhadap arah kepemimpinan Iran selanjutnya. 

“Mereka tidak akan mendapat penyelesaian apa pun, karena kami tidak akan melakukan ini lagi,” kata dia. “Kami akan bekerja sama dengan rakyat dan rezim untuk memastikan seseorang yang tepat memimpin, yang dapat membangun Iran dengan baik tetapi tanpa senjata nuklir.”

Pernyataan itu langsung ditolak oleh Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya tidak melihat alasan untuk kembali membuka pembicaraan dengan Washington.

Dalam wawancara dengan NBC News, Araghchi menegaskan Iran tidak meminta gencatan senjata dan menuduh AS berulang kali menyerang di tengah proses diplomasi.

“Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus bernegosiasi dengan AS padahal kami sudah bernegosiasi dengan mereka dua kali, dan setiap kali mereka menyerang kami di tengah-tengah negosiasi,” ujarnya.

Ia juga menanggapi kemungkinan operasi militer darat oleh AS.

“Tidak, kami menunggu mereka. Karena kami yakin bahwa kami bisa menghadapi mereka,” kata Araghchi.

Di Teheran, proses memilih pemimpin tertinggi baru sedang berlangsung. Dewan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan ulama senior Alireza Arafi untuk sementara mengawasi pemerintahan.

Majelis Ahli disebut tengah bersiap menggelar pemilihan pemimpin baru. Seorang anggota lembaga tersebut mengatakan prosesnya “tidak akan berlarut-larut”.

Selain Mojtaba Khamenei, sejumlah nama lain disebut sebagai kandidat potensial, termasuk Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran, serta mantan pejabat senior Ali Larijani yang belakangan mendapat kewenangan lebih luas dalam urusan kebijakan luar negeri dari Khamenei sebelum wafat.