![]() |
| Presiden Donald J. Trump mengawasi Operasi Epic Fury di Mar-a-Lago, Palm Beach, FL, 1 Maret 2026. | WHITE HOUSE/DANIEL TOROK |
Presiden Donald Trump melontarkan kritik terbuka terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer setelah pemerintah Inggris menolak terlibat dalam serangan awal Amerika Serikat terhadap Iran. Dalam wawancara dengan The New York Post, Trump juga mengecam Spanyol karena menolak memberikan akses pangkalan militer bagi pasukan AS.
Pernyataan tersebut muncul di tengah operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, yang dimulai pada 28 Februari.
Washington sejak awal berupaya menggalang dukungan sekutu Barat, termasuk negara-negara NATO, untuk mendukung operasi tersebut dengan menyediakan pangkalan militer strategis di Eropa maupun Samudra Hindia.
Dalam wawancara telepon dengan The New York Post, Trump menyebut beberapa sekutu Barat tidak menunjukkan dukungan yang ia harapkan.
“Kami punya banyak pemenang, tetapi Spanyol adalah pecundang, dan Inggris sangat mengecewakan,” kata Trump.
Ia secara khusus menyoroti sikap pemerintah Inggris yang pada awalnya menolak permintaan Washington untuk menggunakan pangkalan militer sebagai titik peluncuran serangan awal terhadap Iran.
Tentang Starmer, Trump menambahkan, “Sangat mengecewakan kinerjanya, berkaitan dengan serangan besar-besaran kami terhadap negara yang bermusuhan. Dia seharusnya memberikan kepada kami, tanpa pertanyaan atau keraguan, hal-hal seperti pangkalan yang bisa kami gunakan.”
Perselisihan tersebut bermula ketika pemerintah Inggris menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan RAF Fairford di Gloucestershire dan pangkalan Naval Support Facility Diego Garcia di Samudra Hindia sebagai titik awal operasi militer.
Beberapa jam kemudian London mengubah sikapnya dengan mengizinkan penggunaan kedua pangkalan itu, namun hanya untuk tujuan yang disebut sebagai operasi “defensif yang spesifik dan terbatas”. Keputusan tersebut diambil setelah Iran melancarkan serangan balasan yang dinilai dapat mengancam personel Inggris serta sekitar 200.000 warga negara Inggris yang tinggal di kawasan Timur Tengah.
Starmer kemudian membela langkah pemerintahannya di hadapan parlemen Inggris. Ia menegaskan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan nasional Inggris, meskipun mendapat kritik dari Washington.
“Presiden Trump telah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan kami untuk tidak terlibat dalam serangan awal, tetapi ini adalah kewajiban saya untuk menilai apa yang demi kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan, dan saya tetap pada keputusan itu,” ujarnya di parlemen.
Ia juga menegaskan Inggris tidak mendukung upaya “pergantian rezim dari udara”, merujuk pada pengalaman intervensi militer Barat di Irak pada awal 2000-an.
Ketegangan antara kedua pemimpin dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir. Surat kabar Inggris The Daily Telegraph melaporkan bahwa Trump secara pribadi menyebut Starmer sebagai “pecundang” saat berbicara dengan sejumlah rekannya dalam jamuan makan malam dalam dua minggu terakhir.
Menurut sumber yang dikutip media tersebut, Trump berulang kali menyebut Starmer “tidak memiliki masa depan politik”.
Ketika dimintai tanggapan oleh The New York Post mengenai laporan tersebut, Trump tidak mengulangi hinaan itu secara langsung. Ia justru membandingkan Starmer dengan tokoh masa perang Inggris.
“Yah, dia bukan Winston Churchill, begitulah cara saya mengatakannya,” ujar Trump.
Komentar serupa sebelumnya juga ia sampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz awal pekan ini.
Ketegangan dengan London menjadi bagian dari tekanan yang lebih luas dari Washington terhadap sekutu NATO untuk mendukung operasi militer terhadap Iran. Trump juga sempat mengancam akan memutus “semua perdagangan” dengan Spanyol setelah pemerintah di Madrid menolak memberikan akses ke pangkalan Naval Station Rota dan Morón Air Base bagi pasukan AS.
Di sisi lain, Trump memuji dukungan dari pemerintah Prancis dan Jerman yang disebutnya bersedia melakukan koordinasi defensif dengan AS terkait konflik tersebut.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga kembali menyinggung keputusan Inggris mengenai kepulauan Chagos Archipelago di Samudra Hindia. Pemerintah Inggris sebelumnya menyepakati rencana pengalihan kedaulatan wilayah itu kepada Mauritius, sementara pangkalan militer di Diego Garcia tetap digunakan bersama oleh AS dan Inggris.
Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai keputusan yang buruk, menggambarkannya sebagai “pulau bodoh yang mereka serahkan itu.”

0Komentar