Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM. | BPMI SETPRES

Pemerintah menyatakan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman meski kapasitas penyimpanan masih terbatas. Presiden Prabowo Subianto disebut telah memerintahkan pembangunan fasilitas penyimpanan baru untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan daya tampung cadangan BBM nasional selama ini hanya mampu menampung pasokan hingga sekitar 25 hari. Meski demikian, cadangan yang tersedia saat ini dinilai masih berada di atas batas minimal yang lazim digunakan pemerintah.

“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari, maksimal. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari. Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana lazimnya,” ujar Bahlil kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta setelah mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto, Rabu (4/3).

Ia menjelaskan keterbatasan fasilitas penyimpanan menjadi hambatan utama jika pemerintah ingin meningkatkan cadangan energi hingga periode yang lebih panjang.

“Jadi kita tidak bisa katakan lah, teman-teman menganggap harus Pak kita stok 60 hari. Mau isi taruh di mana? Kita tidak punya storage. Makanya sekarang arahan Bapak Presiden segera kita membangun storage. Jadi bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak. Tapi sekarang mau taruh di mana?” katanya.

Menurut Bahlil, pembangunan fasilitas penyimpanan baru menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbesar cadangan strategis energi nasional. Targetnya, Indonesia dapat memiliki cadangan BBM yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga tiga bulan.

Pemerintah saat ini sedang menyiapkan sejumlah opsi lokasi pembangunan fasilitas tersebut. Salah satu wilayah yang dipertimbangkan berada di Sumatra.

“Kita rencana salah satu alternatif terbaiknya ada di wilayah Sumatra,” kata Bahlil.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung potensi dampak konflik global terhadap rantai pasok energi. Menurutnya, hingga kini pasokan energi untuk Indonesia belum mengalami gangguan.

“Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu sudah pasti. Sampai dengan 1–2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear. Insyaallah tidak ada masalah,” tuturnya.

Bahlil menambahkan pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi gangguan pasokan di pasar global, termasuk dengan memperluas sumber impor minyak mentah.

“Jadi kalau menyangkut LPG nggak ada masalah. Jadi relatif clear lah. Kalau menyangkut BBM yang kita impor kan tinggal bensin. Dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East. Jadi relatif insya Allah clear,” ujarnya.