![]() |
| Presiden Trump berbicara selama konferensi pers tentang serangan AS terhadap Iran di Trump National Doral Miami pada 9 Maret. | WHITE HOUSE |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong sekutu untuk mengambil peran lebih besar dalam krisis Selat Hormuz, termasuk membuka sendiri jalur pelayaran yang terganggu oleh langkah Iran. Ia menyebut negara-negara yang terdampak kekurangan bahan bakar jet dapat membeli minyak dari AS atau “merebut” akses di selat tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui Truth Social pada Selasa (31/3), di tengah ketegangan yang meningkat di jalur laut strategis tersebut. Ia menyindir negara-negara yang menolak terlibat dalam operasi militer AS terhadap Iran, termasuk Inggris.
"Semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris yang menolak terlibat dalam pemenggalan kepala Iran, saya punya saran untuk kalian: Nomor 1, beli dari AS, kami punya banyak, dan Nomor 2, kumpulkan keberanian yang tertunda itu, datang ke Selat itu, dan AMBIL SAJA," tulis Trump. Ia menambahkan AS “tidak akan lagi membantu” dan sekutu perlu belajar “bagaimana bertarung untuk diri sendiri”.
Tekanan itu muncul saat strategi Washington mulai bergeser. Laporan The Wall Street Journal menyebut Trump memberi sinyal kepada ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka. Pemerintah menilai upaya memaksa pembukaan jalur tersebut berisiko memperpanjang konflik melampaui target waktu empat hingga enam minggu.
Gedung Putih disebut akan memusatkan operasi pada pelemahan kemampuan angkatan laut dan rudal Iran. Peran membuka kembali selat di masa depan diarahkan kepada sekutu Eropa dan negara-negara Teluk, terutama jika jalur diplomasi tidak menghasilkan hasil.
Trump mengklaim “bagian tersulit” telah terlewati dan Iran “pada dasarnya dihancurkan”, meski gangguan terhadap pelayaran masih terjadi. Sehari sebelumnya, ia juga mengancam akan “sepenuhnya melenyapkan” infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg, jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat.
Di forum terpisah, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan operasi militer AS diperkirakan selesai “dalam hitungan minggu, bukan bulan”. Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan menteri luar negeri G7 di Prancis. Ia menilai Washington “lebih cepat dari jadwal”.
Rubio juga menyebut AS tidak memerlukan bantuan langsung sekutu untuk operasi militer, tetapi akan membutuhkan gugus tugas maritim multinasional untuk mengamankan Selat Hormuz setelahnya, seperti dilaporkan Axios.
Iran, yang menyatakan selat tersebut ditutup sejak 4 Maret, masih mengizinkan sejumlah kapal tanker melintas secara terbatas. Trump menyebut langkah itu sebagai “hadiah”, dengan delapan hingga sepuluh kapal tanker diizinkan lewat.
Namun insiden di lapangan menunjukkan situasi belum stabil. Iran dilaporkan menyerang kapal tanker minyak Kuwait di dekat pelabuhan Dubai pada akhir pekan. Sejumlah laporan juga menyebut kapal-kapal dikenai biaya hingga US$2 juta untuk melintas dengan aman, menandai ketegangan yang terus membayangi jalur energi utama dunia itu.

0Komentar