![]() |
| Presiden Trump berbicara selama konferensi pers tentang serangan AS terhadap Iran di Trump National Doral Miami pada 9 Maret. |
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan operasi militernya di Iran untuk memastikan Tehran tidak pernah bisa membangun kembali kekuatan militernya. Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang telah memasuki minggu ketiga sejak dimulainya kampanye udara AS-Israel, yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury.
Trump mengatakan kepada Stephanie Ruhle dari MSNBC NOW bahwa AS sebenarnya bisa menghentikan kampanye tersebut, namun hal itu tidak dapat diterima.
"Saya rasa saya bisa pergi sekarang juga dan akan memakan waktu 10 tahun bagi mereka untuk bangkit kembali. Tapi saya tidak pikir itu situasi yang dapat diterima. Jika kita bertahan lebih lama, mereka tidak akan pernah bisa bangkit lagi," ujar Trump.
Kampanye militer ini, menurut Pentagon, telah menargetkan lebih dari 15.000 sasaran di dalam Iran, termasuk fasilitas angkatan laut, angkatan udara, dan sistem pertahanan udara. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut sebagian besar sistem pertahanan Iran telah hancur.
Konflik ini juga menyoroti perbedaan tujuan antara AS dan Israel. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard menyampaikan kepada Kongres bahwa tujuan yang digariskan Trump berbeda dengan tujuan yang dikemukakan Tel Aviv.
Israel, di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, fokus pada destabilisasi rezim melalui operasi lebih dalam, termasuk pembunuhan terhadap para pemimpin senior Iran. Sebaliknya, AS menargetkan kemampuan rudal balistik, angkatan laut, dan pertahanan udara Iran.
Trump sempat menegur Israel setelah serangan terhadap ladang gas South Pars memicu respons balasan yang memengaruhi infrastruktur energi di Qatar dan negara Teluk lainnya, memantik kenaikan harga minyak.
Kehadiran militer AS diperluas
Menanggapi serangan Iran yang terus berlanjut, Pentagon menyetujui pengiriman hingga 2.500 Marinir dan sebuah kapal penyerangan amfibi ke Timur Tengah.
Langkah ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal. Serangan Iran juga memaksa Kuwait menutup unit di kilang Al Ahmadi, sementara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi mencegat rudal serta drone semalam, menurut laporan Bloomberg.
Mantan negosiator pemerintahan Biden, Robert Malley, menilai pendekatan Trump sulit diprediksi.
"Dia menawarkan serangkaian tujuan yang terus berubah, tidak hanya dari hari ke hari tetapi seringkali dari jam ke jam. Anda perlu lebih menjadi psikolog daripada analis kebijakan untuk bisa memahami ke mana arah kita," ujar Malley, yang kini berada di Yale Jackson School of Global Affairs.
Konflik ini menunjukkan bahwa meski Trump menyatakan Iran telah dilumpuhkan, eskalasi serangan dan penguatan militer AS menandakan ketegangan belum mereda.

0Komentar