Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan dalam acara "Bussines Summit" di Washington DC, Amerika Serikat, 18 Februari 2026. | ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK


Presiden Prabowo Subianto  menyatakan rencana mempercepat peralihan kendaraan di Indonesia ke tenaga listrik berbasis energi surya, sekaligus membangun pabrik mobil dan motor listrik di dalam negeri sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan kemandirian industri.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi “Presiden Prabowo Menjawab” bersama jurnalis dan ekonom di Hambalang, Jawa Barat, yang ditayangkan melalui YouTube pada Jumat (20/3). Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan bahwa ketergantungan pada bahan bakar minyak masih menjadi beban struktural bagi ekonomi Indonesia.

Ia menyinggung arah industri otomotif global, termasuk produsen besar seperti Toyota, yang dinilainya belum sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik murni. 

“Toyota ini kan masih belum mau ke arah listrik. Saya ingin total listrik, dan saya ingin listriknya itu dari matahari,” ujar Prabowo.

Gagasan tersebut muncul di tengah dorongan global menuju dekarbonisasi dan pengurangan emisi, di mana banyak negara mulai mempercepat transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke listrik. 

Indonesia, sebagai salah satu importir BBM, menghadapi tekanan untuk mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri sekaligus memanfaatkan sumber daya domestik.

Prabowo menilai pembangunan industri kendaraan listrik dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar. 

“Saya akan buka pabrik mobil. Kenapa kita harus jadi pasar mobilnya orang lain,” katanya.

Pemerintah juga tengah menyiapkan kajian teknis untuk mendukung transisi tersebut. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto diminta mengoordinasikan perguruan tinggi dan para pakar untuk merumuskan strategi penghematan BBM dan percepatan elektrifikasi.

Kajian itu mencakup konversi kendaraan berbahan bakar fosil ke listrik, penggantian pembangkit listrik diesel, hingga peralihan penggunaan LPG ke kompor listrik. Hasilnya ditargetkan rampung pada April 2026 untuk kemudian diserahkan kepada kementerian terkait.

Dalam sektor energi, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt. Pada saat yang sama, pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas sekitar 13 gigawatt akan dihapus secara bertahap karena dinilai tidak efisien.

Langkah ini terhubung dengan agenda hilirisasi sumber daya alam yang lebih luas. Pemerintah menyebut sedikitnya 18 proyek tengah dikembangkan melalui Danantara Indonesia, mencakup industri pengolahan mineral, energi terbarukan, dan pengelolaan sampah menjadi energi.

Prabowo menyoroti bahwa Indonesia memiliki cadangan bauksit, aluminium, dan timah yang besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan negara seperti Korea Selatan yang berhasil membangun industri otomotif meski minim sumber daya alam.

“Kita memiliki semua sumber daya. Namun, kita tertinggal dibandingkan negara lain yang tidak memiliki sumber daya tersebut,” ujar Prabowo.