Dalam foto file yang diambil pada 30 April 2019 ini, tentara Iran melewati kapal tanker di Selat Hormuz. | IRNA


Harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel di tengah berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini memasuki pekan keempat. Di saat lalu lintas energi global terganggu, Presiden AS Donald Trump disebut mengusulkan skema berbagi kendali atas Selat Hormuz dengan Iran sebagai bagian dari upaya meredakan krisis.

Lonjakan harga dipicu oleh terhentinya hampir seluruh pelayaran komersial di jalur tersebut setelah Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran membatasi akses sebagai respons atas serangan militer yang dimulai pada 28 Februari. 

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global atau sekitar 20 juta barel per hari.

Data Lloyd’s List menunjukkan hanya 105 kapal yang melintas sejak 1 Maret, jauh turun dari 1.870 kapal pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga minyak Brent mencapai sekitar 55% dibandingkan level sebelum konflik, menurut laporan Axios.

Blokade berbasis tekanan

Penutupan jalur tidak dilakukan melalui penghalang fisik, melainkan lewat tekanan keamanan. Seorang konsultan keamanan maritim menggambarkan situasi ini sebagai “taktik menakut-nakuti dan perang psikologis”.

Perusahaan data maritim Kpler, seperti dikutip The New York Times, mencatat sedikitnya 17 kapal komersial menjadi sasaran serangan sejak konflik dimulai. Kondisi ini diperparah dengan penarikan asuransi risiko perang pada 5 Maret, yang membuat pelayaran melalui selat tersebut tidak lagi layak secara ekonomi.

Operator pelayaran besar seperti Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd menghentikan operasional di jalur itu.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Harga Brent sempat melonjak di atas US$119 setelah serangan terhadap fasilitas LNG Qatar, sebelum turun sekitar 10% pada 23 Maret ketika sinyal negosiasi mulai muncul.

Sinyal negosiasi yang simpang siur

Trump memperpanjang ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali selat tersebut dari 48 jam menjadi lima hari. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa kedua pihak telah mencapai “hampir semua kesepakatan”.

Namun, Iran membantah adanya proses negosiasi. Dalam laporan Reuters, Teheran menyampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa kapal “non-hostile” dapat melintas, meski implementasinya belum jelas di lapangan.

Ketidakpastian ini memicu volatilitas pasar. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent 2026 menjadi rata-rata US$85 per barel, dengan skenario ekstrem yang bisa melampaui puncak 2008 di sekitar US$147,50. 

Bank itu juga memperkirakan potensi kehilangan pasokan kumulatif lebih dari 800 juta barel jika gangguan berlangsung.

Tekanan paling terasa di Asia

Dampak langsung paling terasa di Asia, yang sangat bergantung pada jalur energi dari Teluk. BBC melaporkan sekitar 20% hotel dan restoran di Mumbai terpaksa tutup sebagian atau total akibat kekurangan gas memasak, mengingat 90% impor LPG India melewati Selat Hormuz.

Jepang, yang bergantung hingga 80% pada jalur tersebut untuk impor minyak, mulai mempercepat diversifikasi pasokan LNG dari Australia dan AS.

Di tengah ketegangan, koalisi 22 negara, termasuk sekutu NATO dan negara-negara Asia, mulai berkoordinasi untuk mengamankan pelayaran di kawasan itu.

Kepala IEA Fatih Birol memperingatkan pemulihan aliran energi tidak akan cepat. Ia mengatakan kepada Financial Times bahwa pasar dan pembuat kebijakan cenderung meremehkan skala gangguan, dengan estimasi pemulihan bisa memakan waktu hingga enam bulan.