Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). | ANTARAFOTO/Rivan Awal Lingga


Pemerintahan Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8% dengan mengandalkan program sosial berskala besar dan pembangunan perumahan rakyat. Pemerintah menyebut penciptaan lapangan kerja dari program-program tersebut sebagai penggerak utama ekspansi ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

Target ini muncul di tengah tekanan global yang memengaruhi permintaan dan arus investasi. Pemerintah mendorong konsumsi domestik dan aktivitas sektor riil melalui belanja negara, terutama lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan proyek pembangunan satu juta rumah.

Program MBG menjadi salah satu instrumen utama. Pemerintah merancang sekitar 30 ribu dapur umum yang masing-masing menyerap sekitar 50 tenaga kerja. Skema ini diperkirakan menciptakan 1,5 juta pekerjaan langsung, dan hingga 3 juta jika memasukkan rantai pasok bahan pangan.

Dalam pernyataan yang disampaikan Badan Komunikasi Pemerintah RI, Prabowo menyatakan optimisme terhadap dampak program tersebut. 

"Saya yakin ketika ini berjalan, itu akan lebih dari 8 persen," ujarnya.

Selain MBG, pemerintah mengembangkan Koperasi Desa Merah Putih dengan target 80 ribu unit. Setiap koperasi diproyeksikan mempekerjakan sekitar 18 orang, membuka potensi sekitar 1,4 juta lapangan kerja baru.

Di sektor kelautan, program Kampung Nelayan Merah Putih ditargetkan menjangkau hingga 1.100 lokasi pada 2026. Pemerintah mengklaim proyek percontohan di Biak menunjukkan kenaikan pendapatan nelayan antara 60% hingga 80%.

"Kita bikin pilot project di Biak, penghasilannya nelayan itu naik rata-rata 60 persen sampai 80 persen," kata Prabowo.

Pembangunan satu juta rumah menjadi pendorong terbesar dari sisi tenaga kerja. Setiap unit diperkirakan melibatkan lima pekerja, sehingga total penyerapan bisa mencapai 5 juta orang, di luar efek lanjutan pada industri bahan bangunan dan utilitas.

Pemerintah juga menempatkan MBG sebagai stimulus ekonomi berbasis masyarakat sekaligus investasi jangka panjang pada sumber daya manusia. Program ini ditargetkan menjangkau 80 juta penerima manfaat pada 2026, termasuk anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan hingga 9 Maret 2026, realisasi anggaran MBG mencapai Rp44 triliun atau 13,1% dari total alokasi Rp335 triliun. Program tersebut telah menjangkau 61,62 juta penerima melalui 25.082 dapur umum di berbagai daerah.