Pangkalan Penimbunan Minyak Nasional Shibushi di Prefektur Kagoshima, Jepang bagian barat daya. | KYODO

Jepang akan mulai melepas 53 juta barel minyak mentah dari cadangan nasionalnya pada 26 Maret, langkah darurat untuk meredam guncangan pasokan akibat gangguan di Selat Hormuz di tengah konflik AS–Israel dengan Iran.

Kementerian Perdagangan dan Industri menyebut pelepasan awal ini setara sekitar 8,5 juta kiloliter, diambil dari 11 fasilitas penyimpanan di seluruh negeri. Minyak tersebut akan dialirkan ke penyuling domestik seperti Eneos, Idemitsu, Cosmo Oil, dan Taiyo Oil, masing-masing dalam volume yang mendekati kebutuhan satu bulan.

Langkah ini menjadi bagian dari pelepasan lebih besar yang direncanakan mencapai sekitar 80 juta barel—setara 45 hari konsumsi. Jepang sebelumnya sudah menarik cadangan milik swasta sejak 16 Maret, setara 15 hari pasokan, sebagai tahap awal.

Distribusi tahap kedua dimulai dari pangkalan Kikuma di Jepang barat melalui jaringan pipa. Pengiriman via kapal tanker dari fasilitas lain dijadwalkan mulai 27 Maret. Sebagian besar volume akan mengalir sepanjang Maret dan April, meski sejumlah pengiriman diperkirakan berlanjut hingga Mei atau Juni karena kendala logistik.

Di luar itu, sekitar 8,8 juta barel juga akan dilepas dari cadangan bersama yang disimpan di Jepang berdasarkan perjanjian dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Perdana Menteri Sanae Takaichi mengonfirmasi jadwal tersebut. “Kami mulai melepaskan cadangan milik swasta pada 16 Maret dan akan mulai melepaskan cadangan nasional mulai tanggal 26,” ujarnya.

Langkah Jepang sejalan dengan respons global yang dikoordinasikan International Energy Agency (IEA), yang menyetujui penarikan cadangan darurat terbesar dalam sejarah—sekitar 400 juta barel dari 32 negara anggota. Amerika Serikat menyumbang 172 juta barel, sementara kontribusi Jepang menjadi yang terbesar kedua.

Krisis pasokan dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan AS-Israel pada 28 Februari. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Lalu lintas tanker dilaporkan turun hingga 80% dari tingkat normal.

Ketergantungan Jepang terhadap kawasan tersebut membuat situasinya sangat rentan. Sekitar 95% impor minyak mentah negara itu berasal dari Timur Tengah, dengan 70% di antaranya melewati Hormuz. Meski demikian, Jepang memiliki cadangan strategis besar yang setara sekitar 240 hari konsumsi domestik.

Industri energi juga mulai mencari alternatif pasokan. Japan Petroleum Association menjajaki kemungkinan impor dari Amerika Utara untuk mengisi celah pasokan.

Di tengah upaya stabilisasi ini, pelaku industri memperingatkan tantangan lanjutan. CEO Chevron Mike Wirth mengatakan pemulihan pasokan global tidak akan instan. 

“Akan membutuhkan waktu untuk membangun kembali inventori dengan tingkat kualitas minyak mentah yang tepat, jenis produk yang tepat di seluruh dunia untuk memenuhi permintaan,” ujarnya di forum CERAWeek.