![]() |
| Donald Trump, Presiden AS. | WHITE HOUSE |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan memberi batas waktu satu minggu kepada Israel untuk mengakhiri operasi militernya terhadap Iran, ketika tekanan politik dan ekonomi di dalam negeri AS meningkat seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.
Laporan tersebut pertama kali muncul di media Israel dan kemudian dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional. Tenggat waktu itu disebut mencerminkan dorongan dari pemerintahan Trump untuk menahan perang yang kini telah berlangsung hampir tiga minggu dan meluas melampaui tujuan awal.
Operasi militer yang diberi nama Epic Fury dimulai pada 28 Februari dengan tujuan yang dinyatakan untuk menghancurkan program nuklir, rudal, dan drone Iran. Namun hingga kini operasi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Di Washington, konflik ini memicu tekanan politik yang semakin kuat terhadap Gedung Putih. Sejumlah tokoh media yang sebelumnya mendukung Trump justru menjadi pengkritik keras perang tersebut.
Tekanan domestik juga datang dari sisi ekonomi. Sejak perang dimulai, harga minyak global melonjak lebih dari 25%. Data dari AAA menunjukkan harga rata-rata bensin nasional di AS mencapai US$3,41 per galon pada Sabtu lalu, naik sekitar US$0,43 hanya dalam satu minggu.
Lonjakan harga tersebut berkaitan dengan gangguan pasokan energi global setelah Iran nyaris memblokade Selat Hormuz. Jalur laut strategis itu selama ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam dunia.
Bank investasi Goldman Sachs memperingatkan harga minyak dapat menembus US$100 per barel jika gangguan terhadap jalur energi tersebut terus berlanjut. Di tengah tekanan tersebut, pernyataan publik Trump mengenai arah perang justru memunculkan pesan yang saling bertentangan.
Dalam wawancara telepon dengan Axios pada Rabu (11/3), Trump mengatakan hampir tidak ada lagi target yang tersisa di Iran dan perang bisa segera berakhir.
“Hampir tidak ada yang tersisa,” katanya mengenai target militer Iran. Ia menambahkan, “Kapan pun saya ingin mengakhirinya, perang akan berakhir.”
Beberapa hari sebelumnya, dalam konferensi pers di Doral, Florida, Trump menyebut operasi militer itu “sangat tuntas, hampir selesai”. Namun ia juga mengatakan kepada wartawan, “Kami telah menang dalam banyak hal, tetapi kami belum menang cukup.”
Di media sosial, Trump tetap mempertahankan garis keras terhadap Iran. Dalam unggahan di Truth Social pada 6 Maret, ia menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Teheran.
Namun di balik pernyataan publik tersebut, para pejabat pemerintah AS sendiri belum memberikan gambaran jelas tentang bagaimana konflik itu akan diakhiri.
Perbedaan pandangan juga terlihat antara Washington dan Tel Aviv mengenai durasi operasi militer. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan perang akan terus berlanjut selama diperlukan untuk mencapai seluruh tujuan militer.
“Tanpa batasan waktu apa pun, selama yang diperlukan,” kata Katz.
Pejabat AS dan Israel dilaporkan sedang menyiapkan kemungkinan operasi militer yang berlangsung setidaknya dua minggu lagi. Beberapa menteri Israel bahkan menyebut perubahan rezim di Iran sebagai salah satu skenario yang dapat memakan waktu hingga satu tahun, menurut laporan Times of Israel.
Trump sendiri mengakui adanya ketegangan dengan sekutu utamanya tersebut. Dalam percakapan telepon dengan Times of Israel akhir pekan lalu, ia mengatakan keputusan untuk mengakhiri perang akan diambil “bersama” dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Di tengah pembicaraan diplomatik yang belum jelas arahnya, korban konflik terus bertambah. Sedikitnya 1.300 orang dilaporkan tewas di Iran sejak pertempuran dimulai, sementara ketegangan juga meluas ke Lebanon dan sejumlah negara Teluk.
Di Washington, pertanyaan mengenai strategi akhir perang mulai muncul di Kongres. Senator Demokrat Chris Murphy mempertanyakan langkah berikutnya jika operasi militer dihentikan.
“Apa yang terjadi ketika Anda berhenti membom dan mereka memulai kembali produksi?” ujarnya.

0Komentar