Kapal tanker Luojiashan terlihat sedang lego jangkar di Muscat, Oman, pada 7 Maret 2026. Kapal ini menjadi salah satu tanker yang tertahan di kawasan Teluk di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz. | REUTERS/BONNOIT TESSIER


Ketika Donald Trump menyatakan sedang "berpikir untuk mengambil alih" Selat Hormuz, pernyataan itu langsung menimbulkan dua pertanyaan besar—apa yang dia maksud, dan apakah itu mungkin secara hukum? 

Di tengah konflik bersenjata yang telah memasuki hari ke-13, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Teluk Oman itu bukan sekadar soal geografi. Ia adalah urat nadi sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia.

Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur keluar bagi para produsen minyak di kawasan Teluk menuju lautan lepas. Tidak ada jalan lain. Jika jalur itu terganggu atau lebih buruk lagi ditutup dampaknya langsung terasa di pasar energi global.

Iran sudah mengancam akan melakukan itu. Pada 2 Maret, Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima tertinggi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menyatakan secara terbuka bahwa Selat telah ditutup dan bahwa kapal mana pun yang mencoba melintas akan diserang. 

Ancaman itu bukan tanpa konteks, Iran juga menyebut akan menyerang pipa minyak dan memutus aliran energi dari kawasan, dengan prediksi harga minyak bisa menembus US$200 per barel.

Reaksi pasar datang cepat. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, sempat melonjak di atas US$119 per barel—kenaikan lebih dari 30% dalam beberapa hari pertama. Setelah sempat mereda, harga kembali melampaui US$100 per barel pada 12–13 Maret, naik sekitar 38% dibanding saat konflik dimulai pada 28 Februari. 

International Energy Agency (IEA) menyebut ini sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global, dengan perkiraan pasokan dunia bisa turun hingga 8 juta barel per hari sepanjang Maret.

Tekanan tidak datang dari satu arah saja. QatarEnergy, produsen LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi setelah fasilitas operasionalnya di Ras Laffan dan Mesaieed terdampak serangan. 

Di Arab Saudi, kebakaran melanda kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco setelah pejabat menyebut dua drone Iran berhasil diintersepsi di atasnya, meski Iran membantah bertanggung jawab atas insiden di Qatar maupun Arab Saudi. CEO Aramco Amin Nasser mengingatkan bahwa semakin lama gangguan berlangsung, konsekuensinya bagi ekonomi global akan semakin berat.

Kapal kargo berbendera Thailand yang menurut Angkatan Laut Thailand merupakan kapal Bernama Mayuree Naree—mengalami kebakaran setelah terkena serangan di dekat Selat Hormuz. AFP

Serangan tidak berhenti di sana. Sepanjang pekan ini, setidaknya tiga kapal komersial diserang di sekitar Selat Hormuz, termasuk kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree yang terbakar. 

Dua tanker minyak juga diserang di perairan Irak dekat pelabuhan selatan Basra, serangan pertama terkait minyak di perairan Irak sejak konflik ini dimulai yang memaksa pelabuhan minyak Irak menghentikan operasinya. 

Irak sendiri sudah memangkas produksi 1,5 juta barel per hari karena kapasitas penyimpanannya penuh akibat Selat yang tersumbat.

Apa yang Trump maksud dengan 'mengambil alih'?

Dalam wawancara dengan CBS News, Trump tidak menjelaskan rencana konkret di balik frasa "mengambil alih". Namun konteks pernyataannya cukup jelas bahwa ia ingin Selat tetap terbuka dan aliran minyak tidak terhenti. Ia juga mengancam Iran dengan serangan "dua puluh kali lebih keras" jika Teheran mengganggu lalu lintas di jalur itu.

Kapal tanker Shenlong Suezmax berbendera Liberia setelah melintasi Selat Hormuz, di Mumbai, India, 12 Maret 2026. | REUTERS/Francis Mascarenhas

Yang lebih terukur dari retorika Trump adalah opsi pengawalan kapal. Pada 3 Maret, ia mengumumkan lewat Truth Social bahwa US Development Finance Corporation akan menyediakan asuransi risiko politik untuk perdagangan maritim yang melintas di Teluk, dan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai mengawal tanker "sesegera mungkin." 

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyatakan Prancis dan sekutunya sedang mempersiapkan misi "murni defensif" untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat setelah fase paling intens konflik berakhir.

Namun dua pekan ke dalam konflik, pengawalan itu belum terwujud. Menteri Energi AS Chris Wright mengakui pada 12 Maret bahwa militer AS "belum siap" untuk memulai pengawalan tanker. 

"Semua aset militer kami saat ini fokus untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran," kata Wright. 

Ia memperkirakan Angkatan Laut mungkin baru bisa mulai mengawal tanker menjelang akhir bulan. Situasi ini bahkan sempat menimbulkan insiden memalukan: Wright sempat memposting di media sosial bahwa AL-AS telah berhasil mengawal sebuah tanker melalui Selat, namun postingan itu dihapus dalam waktu setengah jam, dan Gedung Putih mengonfirmasi bahwa klaim tersebut tidak benar.

Pengawalan militer memang opsi yang secara hukum dapat dilakukan. "Pengambilalihan" Selat, sebaliknya, jauh lebih rumit.

Mengapa 'pengambilalihan' itu hampir tidak mungkin secara hukum?

Selat Hormuz bukan perairan internasional. Berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS)—Konvensi PBB tentang Hukum Laut—jalur itu berada di bawah perairan teritorial berdaulat Iran dan Oman. Artinya, tidak ada negara lain yang memiliki yurisdiksi atas selat tersebut tanpa persetujuan keduanya.

Alexander Freeman, mitra di firma hukum Hill Dickinson yang berbasis di Inggris, menyampaikan penilaian yang lugas bahwa pengambilalihan AS atas Selat tanpa persetujuan Iran dan Oman kemungkinan besar akan dianggap sebagai serangan terhadap kedaulatan kedua negara itu, bahkan jika tujuannya adalah memastikan lintasan kapal tetap aman.

Ini bukan hambatan kecil. Oman—meski bukan pihak dalam konflik—adalah tetangga yang secara historis memainkan peran mediasi di kawasan. Melibatkannya tanpa izin akan membuka komplikasi diplomatik yang jauh lebih luas dari yang mungkin diinginkan Washington. 

Iran sendiri telah menyatakan bahwa mereka akan "menyambut" kapal Angkatan Laut AS yang mencoba mengawal tanker—sebuah sinyal bahwa Teheran siap menyerang pasukan AS di jalur sempit itu.

Seorang pelaut Angkatan Laut AS memindai kemungkinan ranjau dari haluan fregat rudal berpemandu USS Nicholas selama misi pengawalan tanker dalam Operasi Earnest Will di Teluk Persia, Juni 1988. | Senior Chief Photographer's Mate Mitchell/Wikimedia Commons

Sejarah menawarkan satu preseden. Selama Perang Iran–Irak di era 1980-an, AS pernah mengawal tanker melalui Selat Hormuz dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Earnest Will

Namun para analis menilai situasinya kini jauh lebih kompleks, karena negara-negara Teluk saat itu tidak diserang secara langsung seperti sekarang, dan ancaman asimetris seperti drone bunuh diri serta ranjau laut kini jauh lebih canggih.

Pemimpin baru Iran dan arah yang tak berubah

Di tengah konflik yang terus berlanjut, Iran justru menghadapi perubahan kepemimpinan yang paling dramatis dalam beberapa dekade. Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang memerintah Iran selama 37 tahun, tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari — hari pertama konflik. Pada 9 Maret, Majelis Ahli Iran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai penggantinya.

Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Maret 2026. | Mahmoud Hussrini/Wikipedia

Pada 12 Maret, Mojtaba Khamenei mengeluarkan pernyataan publik pertamanya sejak diangkat dan isinya tidak memberi ruang untuk tafsir ganda. 

Pernyataan itu dibacakan oleh penyiar televisi negara Iran dengan foto Khamenei di layar; pemimpin baru itu sendiri tidak tampak secara langsung, memicu spekulasi bahwa ia mungkin terluka dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya. Seorang pejabat Iran mengonfirmasi bahwa Mojtaba memang terluka, namun menyatakan ia "hidup dan sehat."

Dalam pernyataannya, Mojtaba menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz harus terus digunakan sebagai "alat tekanan terhadap musuh." Ia juga memperingatkan bahwa Iran sedang mengkaji pembukaan "front-front lain di mana musuh tidak berpengalaman dan sangat rentan," yang akan diaktifkan jika perang terus berlanjut. 

Rob Geist Pinfold dari King's College London menilai pernyataan itu sebagai peneguhan posisi Iran, bukan perubahan — "bukan yang diharapkan oleh pemerintahan Trump, yaitu pergeseran retorika dari pemimpin tertinggi baru."

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari sebelumnya mengisyaratkan bahwa Iran akan mempertimbangkan mengakhiri perang jika syarat tertentu terpenuhi, sebuah sinyal yang bertolak belakang dengan pernyataan Mojtaba dan mencerminkan ketegangan internal di dalam pemerintahan Teheran.

Ke mana arah konflik ini?

Respons internasional terhadap krisis energi bergerak lebih cepat dari diplomasi. Lebih dari 30 negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat, yang merupakan pelepasan terbesar dalam sejarah lembaga itu. 

AS berkontribusi 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve. Namun langkah itu sejauh ini belum mampu meredakan pasar sepenuhnya—harga minyak kembali naik setelah pernyataan Khamenei dirilis.

Scott Lucas, profesor politik AS dan internasional di University College Dublin, melihat satu variabel yang bisa mengubah arah, yaitu kondisi domestik Trump. 

Jika tekanan ekonomi di dalam negeri AS terus meningkat, ada kemungkinan negara-negara Teluk mendapat celah untuk mendorong penarikan mundur. Pemilihan paruh waktu AS pada November juga bisa menjadi kalkulasi tersendiri bagi pemerintahan Trump apalagi survei Quinnipiac University yang dirilis pekan lalu menunjukkan 53% pemilih AS menentang aksi militer terhadap Iran.

Trump sendiri sebelumnya menyebut perang bisa berlangsung empat hingga lima minggu. Menteri Energi Wright memprediksi konflik akan berlangsung "minggu, bukan bulan." Tapi dengan pemimpin tertinggi baru Iran yang justru mempertegas posisi perang di pernyataan pertamanya, dan dengan Selat yang masih tersumbat, jangka waktu itu kini lebih sulit untuk dipastikan.

Untuk saat ini, Selat Hormuz tetap menjadi titik yang menentukan baik sebagai jalur minyak maupun sebagai ujian dari batas-batas klaim kekuasaan yang tengah dipertaruhkan di kawasan.