Donald Trump, Presiden AS. Tangkapan layar Truth Social

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya akan menarik pasukan dari Iran “dalam waktu sangat dekat”, menandai indikasi paling jelas sejauh ini bahwa kampanye militer AS bersama Israel mendekati fase akhir, meski pertempuran masih berlangsung di berbagai wilayah Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Kantor Oval, Selasa, saat menerima kunjungan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin. Ia menegaskan Washington “belum siap untuk pergi”, tetapi menyebut penarikan akan segera dilakukan.

“Kami belum siap untuk pergi, tapi kami akan pergi dalam waktu… sangat dekat,” kata Trump.

Operasi militer yang diberi nama Operation Epic Fury diluncurkan pada 28 Februari dan kini memasuki minggu ketiga. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran, khususnya program rudal dan jaringan komando militernya.

Trump mengklaim militer AS telah menyerang lebih dari 7.000 target di Iran. Menurutnya, serangan itu mengurangi peluncuran rudal balistik hingga 90% dan menurunkan serangan drone sekitar 95%.

Ia juga mengatakan angkatan laut, angkatan udara, sistem radar, serta struktur kepemimpinan militer Iran telah mengalami kerusakan besar, termasuk lebih dari 100 kapal yang disebut tenggelam atau tidak lagi berfungsi.

Meski demikian, konflik belum mereda. Iran masih meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta sejumlah negara Teluk. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 personel militer AS dan merusak infrastruktur sipil, termasuk bandara internasional Dubai.

Israel pada hari yang sama mengumumkan telah menewaskan Ali Larijani, pejabat keamanan senior Iran sekaligus kepala Garda Revolusi, bersama seorang komandan pasukan paramiliter Basij. Operasi itu disebut sebagai salah satu pembunuhan paling signifikan sejak tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang.

Strategi keluar

Di Washington, tekanan politik meningkat terkait arah akhir operasi militer tersebut. Sejumlah anggota Partai Demokrat meminta pemerintah menjelaskan rencana pascaperang dan mekanisme pencegahan kebangkitan kembali kemampuan militer Iran.

Anggota DPR dari Connecticut, Jim Himes, mendesak Gedung Putih memaparkan strategi yang jelas setelah pemboman berakhir.

“Setelah angkatan laut mereka ditenggelamkan dan peluncur rudal mereka hancur, kita akan menarik diri, dan dalam penarikan tersebut, inilah cara kita memastikan bahwa tidak akan pernah ada senjata nuklir yang dibangun di Iran,” ujarnya.

Perbedaan pandangan di dalam pemerintahan juga mulai terlihat. Direktur National Counterterrorism Center Joe Kent mengundurkan diri pada Selasa, dengan alasan tidak dapat mendukung kelanjutan perang tersebut “dengan hati nurani yang baik”.

Ketegangan dengan sekutu NATO

Trump juga mengkritik sekutu NATO yang menolak mengirim kapal perang untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, jalur perdagangan energi vital yang secara efektif terblokade sejak konflik dimulai. Gangguan jalur pelayaran itu mendorong harga minyak global melampaui US$100 per barel.

“NATO membuat kesalahan yang sangat bodoh,” kata Trump, seraya menegaskan AS tidak membutuhkan bantuan aliansi tersebut.

Ketika ditanya apakah konflik berisiko berubah menjadi perang berkepanjangan seperti Vietnam, Trump menjawab singkat: “Saya benar-benar tidak takut akan apapun.”