![]() |
| Presiden Trump berbicara selama konferensi pers tentang serangan AS terhadap Iran di Trump National Doral Miami pada 9 Maret. |
Desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar negara-negara sekutu mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz belum berbuah dukungan konkret. Sejumlah negara Eropa dan Asia memilih menahan komitmen, menandakan perbedaan sikap atas keterlibatan militer di jalur energi paling strategis dunia itu.
Pernyataan Trump disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk Persia, menyusul serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian setelah lalu lintas kapal tanker komersial terganggu dan harga minyak melonjak di atas US$100 per barel.
Trump menilai negara lain memiliki kepentingan lebih besar atas keamanan selat tersebut. Ia menyebut China, Inggris, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan sebagai pihak yang diharapkan berkontribusi.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di Air Force One, ia mengatakan telah “mendesak negara-negara ini untuk meningkatkan upaya guna menjaga wilayah mereka sendiri”.
Ia juga menyinggung ketergantungan China terhadap jalur tersebut dan mengkritik sikap awal Inggris yang dinilai ragu. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump memperingatkan NATO bisa menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika sekutu tidak merespons, bahkan membuka kemungkinan menunda pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.
Namun respons dari negara-negara yang disebut masih terbatas pada pernyataan hati-hati. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pemerintahnya belum menerima permintaan resmi dari Washington dan masih meninjau langkah yang sesuai dengan hukum domestik. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan akan “berkoordinasi erat dan menilai secara menyeluruh” situasi tersebut.
Di Eropa, pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels belum menghasilkan dukungan militer. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan NATO belum mengambil keputusan terkait peran di Selat Hormuz. Ia menambahkan sekutu Eropa membutuhkan kejelasan dari AS dan Israel mengenai tujuan operasi militer mereka.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyampaikan sikap yang lebih tegas. “Ini bukan perang kita. Kami tidak memulainya,” ujarnya.
Yunani dan Italia juga menolak keterlibatan langsung dalam operasi militer di kawasan itu. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengusulkan perluasan misi angkatan laut Aspides yang sebelumnya beroperasi di Laut Merah agar mencakup Teluk Persia. Namun perubahan mandat tersebut memerlukan persetujuan seluruh 27 negara anggota.
Prancis bergerak secara terpisah dengan mencoba membangun koalisi pengawalan konvoi kapal. Menurut pejabat yang dikutip Associated Press, Belanda, Italia, dan Yunani menunjukkan minat, meski belum ada komitmen final.
Di sisi lain, Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka untuk semua negara kecuali AS dan Israel. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan Teheran masih mengizinkan kapal dari sejumlah negara melintas.
Pemerintah AS dilaporkan tengah mengupayakan pembentukan koalisi formal dalam waktu dekat, meski masih ada perdebatan internal mengenai waktu pelaksanaan operasi pengawalan—apakah dilakukan saat konflik berlangsung atau setelah mereda.

0Komentar