![]() |
| Presiden Donald Trump berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada 16 Januari 2026 di Washington, DC. | WHITE HOUSE |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang “habis-habisan” ketika kampanye militer gabungan AS dan Israel terhadap Teheran memasuki minggu kedua. Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu melalui unggahan di platform Truth Social, di tengah sinyal dari pejabat militer AS bahwa fase pemboman paling intens kemungkinan belum dimulai.
Ancaman tersebut muncul ketika konflik regional terus meluas sejak operasi militer terhadap Iran diluncurkan pada 28 Februari. Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) menyebut pasukan Amerika telah menyerang lebih dari 3.000 target di dalam wilayah Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury.
Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan yang direkam sebelumnya dan disiarkan televisi negara. Dalam pidatonya, ia meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan rudal dan drone Iran dalam beberapa hari terakhir.
“Saya harus meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran, atas nama saya sendiri,” kata Pezeshkian, seperti dikutip Associated Press.
Ia mengatakan dewan kepemimpinan tripartit Iran yang dibentuk setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas dalam serangan pembuka pada 28 Februari.telah menginstruksikan militer Iran untuk menghentikan serangan terhadap negara tetangga kecuali jika Iran diserang terlebih dahulu dari wilayah mereka.
Namun pesan tersebut datang di tengah laporan serangan lanjutan di kawasan Teluk. Menurut Associated Press, rudal dan drone Iran sempat mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Dubai, menyerang fasilitas minyak di Arab Saudi, dan memicu kepanikan warga di Bahrain yang mencari perlindungan.
Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, memberikan penjelasan berbeda mengenai sasaran serangan tersebut. Ia mengatakan Teheran “tidak menyerang negara-negara yang tidak memberikan ruang bagi Amerika untuk menyerang negara kami.”
Pernyataan itu dianggap bertentangan dengan permintaan maaf Pezeshkian, sekaligus dengan laporan bahwa sebagian serangan tidak terkait langsung dengan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Sejumlah pengamat menilai perbedaan pesan dari pejabat Iran tersebut mencerminkan gangguan dalam struktur komando militer negara itu. Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), yang mengendalikan sebagian besar arsenal rudal balistik Iran, sebelumnya berada di bawah kendali langsung Khamenei.
Kematian pemimpin tertinggi itu dalam serangan awal dilaporkan memicu perubahan besar dalam rantai komando militer Iran, dengan unit-unit tertentu diduga mengambil keputusan operasional secara lebih independen.
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menanggapi tuntutan Trump yang sehari sebelumnya mendesak Iran untuk melakukan “penyerahan tanpa syarat.” Ia menolak tuntutan tersebut dengan keras.
“Ini adalah mimpi yang harus mereka bawa ke kubur,” kata Pezeshkian.
Di Washington, pemerintahan Trump pada hari yang sama menyetujui penjualan senjata tambahan senilai US$151 juta kepada Israel. Persetujuan itu diberikan ketika operasi militer di kawasan terus meningkat.
Menurut data yang dikutip Associated Press, konflik sejak akhir Februari telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran. Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas di Lebanon, sementara 11 orang tewas di Israel. Enam tentara AS juga dilaporkan tewas dalam operasi militer tersebut.
Di luar medan tempur, tujuan strategis Washington dalam konflik ini masih dipertanyakan oleh sejumlah sekutu. Laporan CNN menyebut pejabat Arab dan Eropa mengaku belum melihat tujuan akhir yang jelas dari operasi militer AS.
Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia memperingatkan konflik yang meluas di kawasan Teluk berpotensi mengguncang ekonomi global.
Menurutnya, perang dapat “meruntuhkan ekonomi dunia” jika memicu gangguan besar terhadap ekspor energi dari negara-negara Teluk.

0Komentar