![]() |
| Personel militer AS berjalan di depan Kementerian Pertahanan. | REUTERS/KAREN TORO |
Militer Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengonfirmasi telah melakukan operasi darat mematikan di Ekuador dalam kampanye kontra-narkotika bersama pemerintah negara itu. Operasi yang dilakukan pada Jumat (6/3) tersebut menandai eskalasi tajam dari peran sebelumnya yang hanya bersifat penasihat, sekaligus memperluas operasi militer AS dari laut ke daratan di negara Amerika Selatan tersebut.
Pentagon menyatakan tindakan itu dilakukan atas permintaan pemerintah Ekuador sebagai bagian dari upaya bersama melawan jaringan perdagangan narkoba yang oleh Washington disebut sebagai “narco-terrorists”.
“Atas permintaan Ekuador, Departemen Perang melaksanakan tindakan terarah untuk memajukan tujuan bersama kami membongkar jaringan narco-teroris,” tulis juru bicara Pentagon Sean Parnell dalam unggahan di platform X.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara terpisah mengatakan pasukan Amerika kini terlibat langsung dalam serangan terhadap fasilitas kelompok narkoba.
Pasukan AS, kata dia, melakukan operasi terhadap “situs narco-teroris di darat” dalam kemitraan dengan militer Ekuador. “Akan ada lebih banyak lagi,” tulisnya.
Beberapa hari sebelumnya, keterlibatan militer AS di Ekuador masih terbatas pada dukungan teknis dan peran penasihat.
Komando Selatan AS pada 3 Maret mengumumkan operasi gabungan antara pasukan Amerika dan Ekuador untuk menargetkan kelompok yang disebut sebagai “Organisasi Teroris yang Ditetapkan di Ekuador”. Pada tahap awal itu, Pasukan Khusus AS hanya memberikan nasihat operasional dan dukungan kepada unit militer Ekuador yang melakukan serangan.
Menurut laporan ABC News dan The New York Times, pasukan Amerika saat itu tidak terlibat langsung dalam pertempuran darat.
Target operasi adalah Comandos de la Frontera, kelompok perdagangan narkoba asal Kolombia yang diketahui beroperasi di wilayah utara Ekuador.
Media Ekuador El Universo melaporkan bahwa serangan pada Jumat menghancurkan kompleks logistik dan tempat peristirahatan yang digunakan oleh seorang pemimpin kelompok tersebut yang dikenal dengan nama alias “Mono Tole”. Area pelatihan bagi pengedar narkoba juga disebut ikut menjadi sasaran.
Presiden Ekuador Daniel Noboa kemudian mengunggah video yang memperlihatkan lokasi yang hancur akibat serangan tersebut.
“Kami akan menemukan mereka. Ke mana pun mereka bersembunyi, kami akan ada di sana,” tulis Noboa dalam pernyataannya.
Strategi kontra-narkotika diperluas
Operasi darat ini menjadi bagian dari pendekatan yang lebih agresif dalam kampanye kontra-narkotika pemerintahan Presiden AS Donald Trump di kawasan Amerika Latin.
Sejak awal masa pemerintahannya, militer AS dilaporkan telah melakukan sekitar 45 serangan terhadap kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba di kawasan Karibia dan Pasifik Timur. Serangan-serangan tersebut menewaskan lebih dari 150 orang, menurut laporan Politico dan CNN.
Washington juga menetapkan dua jaringan kriminal besar di Ekuador—Los Lobos dan Los Choneros—sebagai organisasi teroris asing.
Langkah terbaru ini muncul setelah kepala Komando Selatan AS Jenderal Francis Donovan bertemu Presiden Noboa di Quito pada 2 Maret. Pertemuan tersebut membahas peningkatan kerja sama keamanan di tengah meningkatnya kekerasan terkait perdagangan narkoba di Ekuador.
Setelah pertemuan itu, Noboa menyatakan negaranya sedang memasuki “fase baru melawan narko-terorisme dan penambangan ilegal”. Pemerintah Ekuador juga menerapkan jam malam di empat provinsi yang terdampak operasi militer.
Menteri Dalam Negeri Ekuador John Reimberg meminta warga untuk tetap berada di rumah selama operasi berlangsung.
“Tetap di rumah. Kita sedang berperang,” ujarnya kepada masyarakat setempat.
Perhatian terhadap langkah militer AS
Ekspansi operasi militer AS di Ekuador terjadi setelah serangan pada Januari lalu di Venezuela yang bertujuan menangkap Presiden Nicolás Maduro.
Langkah-langkah tersebut memicu kekhawatiran sejumlah analis dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melihatnya sebagai bagian dari pola peningkatan operasi militer AS di kawasan.
Sebelumnya, banyak pengamat memperkirakan bahwa jika operasi darat diperluas, target utamanya kemungkinan berada di Meksiko atau Kolombia—dua negara yang memiliki peran lebih besar dalam jalur perdagangan narkoba global.
Namun Ekuador, yang pemerintahnya secara aktif mencari dukungan keamanan dari Washington, justru menjadi lokasi pertama uji coba operasi darat mematikan terhadap infrastruktur kartel narkoba di wilayah tersebut.

0Komentar