kapal perusak (destroyer) kelas Luyang III (Tipe 052D) milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. | REUTERS


Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan melaporkan delapan kapal perang Tiongkok terdeteksi beroperasi di sekitar perairan Taiwan pada Senin (9/3). Angka ini sedikit meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat tujuh kapal, menunjukkan keberlanjutan tekanan angkatan laut Tiongkok di Selat Taiwan.

Kementerian pertahanan Taiwan mencatat dalam unggahan di X bahwa hingga pukul 6 pagi waktu setempat, tidak ada pesawat militer Tiongkok yang terdeteksi. "ROC Armed Forces telah memantau situasi dan merespons," tulis kementerian, menegaskan kesiapan Taipei menghadapi aktivitas angkatan laut Beijing.

Kehadiran kapal-kapal ini merupakan bagian dari pola yang berlangsung sepanjang 2026. Sejak awal Maret, Taiwan mencatat puluhan kapal Tiongkok di dekat perairannya, termasuk sembilan kapal pada 5 Maret dan tujuh kapal pada 6 Maret. Taiwan merespons dengan mengerahkan pesawat dan kapal angkatan lautnya serta sistem rudal berbasis pantai untuk memantau pergerakan Beijing.

Pada 8 Maret, laporan Seoul Economic Daily menyebut Tiongkok secara terbuka menugaskan dua kapal penghancur Type 055 baru — Dongguan dan Anqing — ke Angkatan Laut Komando Teater Timur yang mengawasi Selat Taiwan. Penambahan ini membuat armada Type 055 berbobot 10.000 ton milik Tiongkok menjadi sepuluh kapal, naik dari delapan sebelumnya.

Aktivitas ini mengikuti latihan militer besar yang digelar China pada akhir 2025 bertajuk Justice Mission 2025. Latihan tersebut mensimulasikan pemblokiran jalur udara dan laut utama Taiwan dan menjadi yang terbesar dari segi cakupan wilayah. Menteri Pertahanan Taiwan sebelumnya memperingatkan pulau tersebut berisiko “menjadi kebal” terhadap latihan semacam ini, meskipun ancaman tetap mendesak.

Data kementerian pertahanan Taiwan menunjukkan pesawat militer China yang teridentifikasi di sekitar wilayah Taiwan meningkat 23% pada 2025 dibanding tahun sebelumnya. Beijing terus menegaskan Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taipei menekankan kedaulatan pulau.

Menanggapi aktivitas militer dan kunjungan diplomatik baru-baru ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut kunjungan Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai ke Jepang sebagai "memalukan," menegaskan sikap Beijing terhadap hubungan internasional Taipei.