Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana, Jakarta, Rabu (11/2/2026). | Sekretariat Presiden 

Pemerintah Indonesia berencana mempercepat penerapan campuran bahan bakar nabati biodiesel B50 dan bioetanol E20 sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan percepatan program tersebut menjadi salah satu langkah untuk menahan dampak kenaikan harga energi global terhadap perekonomian domestik.

Harga minyak mentah global dalam beberapa hari terakhir melonjak tajam dan sempat menembus level di atas US$100 per barel. Angka ini jauh melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang ditetapkan sekitar US$70 per barel.

Lonjakan harga tersebut terjadi setelah meningkatnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari. Ketegangan di kawasan itu juga memicu gangguan pada jalur distribusi energi global, termasuk laporan penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Di tengah tekanan harga tersebut, pemerintah menilai peningkatan porsi bahan bakar berbasis nabati dapat membantu menekan biaya energi.

“Mungkin kita akan mendorong untuk kita mempercepat B50, salah satu alternatif. Kemudian kita akan mempercepat penerapan E20, etanol,” kata Bahlil kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/3).

Ia menjelaskan bahwa campuran bahan bakar nabati dapat membuat harga energi lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil murni jika harga minyak global terus meningkat.

“Karena kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui 100 US$ per barrel, maka itu lebih murah,” ujarnya.

Program B50 merupakan pengembangan dari mandatori B40 yang saat ini telah berjalan di Indonesia. Skema tersebut mencampurkan 50% biodiesel berbasis minyak sawit dengan solar.

Pemerintah juga mempercepat rencana penerapan E20, yaitu campuran 20% bioetanol dalam bensin. Program ini sebelumnya dijadwalkan berlaku pada 2028 sebagai bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada Februari 2026.

Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kendaraan yang diproduksi di Indonesia umumnya sudah dapat menggunakan campuran bioetanol hingga tingkat E20.

Di sisi lain, pemerintah masih memantau dampak lonjakan harga minyak terhadap fiskal negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara.

Ia mengatakan rata-rata harga minyak sekitar US$92 per barel dapat mendorong defisit anggaran meningkat hingga sekitar 3,6–3,7% dari produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, pemerintah menegaskan harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak akan dinaikkan setidaknya hingga Hari Raya Idul Fitri.

Menurut Bahlil, persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan pada ketersediaan pasokan energi di dalam negeri, melainkan tekanan dari sisi harga di pasar global.

“Problem kita sekarang bukan di stok, stok tidak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga,” katanya.