Pemerintah menyatakan cadangan energi nasional dalam kondisi aman menjelang Idulfitri 2026, meski harga minyak dunia melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan stok bahan bakar minyak (BBM), minyak mentah, dan LPG berada di atas ambang minimum nasional. Standar cadangan ditetapkan 21 hari, dan saat ini seluruh komoditas disebut melampaui batas tersebut.
"Khusus untuk persiapan hari raya Idulfitri, stok BBM kita, crude, dan LPG rata-rata di atas standar minimum nasional. Standar minimum kita 21 hari. Ini semuanya di atas 21 hari," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3).
Data per 1 Maret 2026 menunjukkan ketahanan stok BBM berada di kisaran 21–23 hari. PT Pertamina menyiagakan 2.074 SPBU beroperasi 24 jam di jalur utama mudik, 6.300 agen LPG, serta 200 mobil tangki sebagai cadangan pasokan. Sebanyak 64 Kios Pertamina Siaga dan layanan modular juga ditempatkan di wilayah tanpa SPBU permanen dan kawasan wisata.
Kilang Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, dilaporkan beroperasi penuh untuk memasok solar subsidi jenis C48. Untuk solar kualitas lebih tinggi seperti C51, Indonesia masih bergantung pada impor.
Pernyataan pemerintah muncul saat pasar energi global bergejolak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, serta dilaporkan menutup Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia.
Harga minyak mentah pun terdorong naik. Bahlil menyebut Indonesian Crude Price (ICP) telah bergerak di kisaran US$78–80 per barel, melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Pemerintah tengah menghitung dampaknya terhadap fiskal, termasuk potensi lonjakan subsidi energi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan kenaikan harga global hampir pasti berimbas pada harga dalam negeri.
"Otomatis akan naik (BBM) sama seperti saat perang Ukraina kan naik," kata Airlangga, Senin (2/3).
Untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, pemerintah membuka opsi pengadaan minyak dari luar Timur Tengah. Pertamina disebut telah menjalin kesepakatan dengan perusahaan energi asal AS seperti Chevron dan ExxonMobil guna menjaga ketersediaan stok domestik.
"Kami harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya, dengan tetap memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri," ujar Bahlil.

0Komentar