Israel menggunakan sistem pertahanan laser Iron Beam dalam operasi tempur untuk pertama kalinya, menandai babak baru dalam sejarah persenjataan modern, ketika sinar laser bukan lagi hanya teknologi masa depan, melainkan alat pertahanan nyata di medan konflik.
Sistem itu diaktifkan dini hari Senin ketika Hezbollah menembakkan roket dan drone ke arah wilayah Haifa sesaat setelah pukul 01.00. Ini adalah serangan lintas perbatasan pertama kelompok tersebut sejak gencatan senjata November 2024 dan langsung memantik balasan militer besar-besaran dari Israel.
Hezbollah mengklaim serangan itu menargetkan situs pertahanan rudal di selatan Haifa sebagai "pembalasan atas darah Pemimpin Iran, Ali Khamenei" merujuk pada pembunuhan pemimpin tertinggi Iran itu dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Pasukan Pertahanan Israel menyatakan satu roket berhasil dicegat, sementara beberapa lainnya jatuh di wilayah terbuka tanpa korban jiwa maupun kerusakan berarti.
Sumber-sumber pertahanan, dikutip Calcalist, menyebut Iron Beam turut serta dalam mencegat ancaman udara selama serangan berlangsung. Rekaman yang beredar di media sosial tampak memperlihatkan laser itu menjatuhkan sebuah drone di sepanjang perbatasan utara. Ynet melaporkan kebakaran terjadi di dekat komunitas perbatasan Shlomi akibat pencegatan itu.
Israel merespons dengan gelombang serangan udara di seluruh Lebanon. menghantam target-target Hezbollah di pinggiran selatan Beirut, Dahieh, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa. Pejabat Lebanon melaporkan sedikitnya 54 orang tewas. BBC melaporkan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut pemimpin Hezbollah Naim Qassem sebagai "target yang ditandai untuk dieliminasi."
Sepuluh tahun dalam pembuatan
Iron Beam bukan produk semalam. Dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems bersama Kementerian Pertahanan Israel selama hampir satu dekade, sistem ini baru diserahkan ke Angkatan Udara Israel pada akhir Desember 2025 setelah dinyatakan operasional pada September tahun yang sama.
Cara kerjanya sederhana secara konsep tapi rumit secara teknis. laser berenergi tinggi diarahkan untuk menghancurkan roket jarak pendek, drone, dan mortir pada jarak hingga 10 kilometer. Yang membuatnya menarik bukan hanya akurasinya, melainkan biayanya.
Satu kali pencegatan menggunakan rudal Tamir milik Iron Dome menghabiskan sekitar US$50.000. Satu kali tembakan laser Iron Beam? "Beberapa shekel saja," kata pejabat pertahanan senior Israel.
CEO Rafael Yoav Tourgeman tak menyembunyikan antusiasmenya. Kepada Flight Global, ia menyebut kemampuan sistem ini "sangat menakjubkan" dan mengatakan perusahaannya telah "membalik persamaan pertahanan."
Namun ada batasannya. Setiap unit penargetan laser berharga puluhan juta dolar, melindungi area yang luas membutuhkan puluhan unit, dan sistem ini kesulitan bekerja dalam kondisi visibilitas buruk seperti tutupan awan tebal.
Eskalasi regional yang lebih luas
Serangan Hezbollah tak bisa dilepaskan dari guncangan besar yang sedang melanda kawasan. Operasi AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan Khamenei beserta sejumlah pejabat senior Iran memantik gelombang balasan. Iran menembakkan ratusan rudal dan drone ke arah Israel, pasukan AS, serta negara-negara Teluk yang menampung instalasi militer Amerika, menurut laporan NPR.
Di dalam Lebanon sendiri, reaksi atas tembakan roket Hezbollah justru datang dari pemerintah sendiri. Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut serangan itu "tindakan yang tidak bertanggung jawab."
Presiden Joseph Aoun memperingatkan agar Lebanon tidak dijadikan "platform untuk perang proksi." Pemerintah Lebanon kemudian mengeluarkan larangan aktivitas militer Hezbollah menyusul insiden tersebut.

0Komentar