![]() |
| Ilustrasi bendera Israrl dan Spanyol. | UNSPLASH |
Pemerintah Spanyol secara resmi menarik duta besarnya dari Israel, memperdalam ketegangan diplomatik antara kedua negara yang telah meningkat sejak perang di Gaza. Keputusan tersebut membuat kedutaan Spanyol di Tel Aviv kini hanya dipimpin oleh seorang chargé d'affaires, bukan lagi duta besar penuh.
Pencabutan mandat itu dipublikasikan dalam lembaran negara resmi Spanyol, Boletín Oficial del Estado, setelah disetujui oleh Dewan Menteri pada Selasa. Duta Besar Ana Sálomon Pérez, yang menjabat sejak Juli 2021, sebelumnya telah dipanggil pulang ke Madrid pada 9 September 2025 untuk konsultasi dan sejak itu tidak kembali ke Israel.
Penarikan tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, menuduh pemerintah Spanyol bersikap antisemit. Israel juga memberlakukan larangan masuk terhadap dua pejabat Spanyol—Wakil Perdana Menteri Yolanda Díaz dan Menteri Kepemudaan Sira Rego—yang semakin memperuncing hubungan diplomatik kedua negara.
Pemerintah Spanyol di bawah Perdana Menteri Pedro Sánchez termasuk salah satu pemerintah Eropa yang paling keras mengkritik operasi militer Israel di Gaza.
Sánchez sebelumnya menyebut operasi tersebut sebagai “genosida” serta mengumumkan sejumlah kebijakan yang menargetkan Israel, termasuk embargo senjata permanen, pembatasan penggunaan pelabuhan Spanyol untuk pengiriman bahan bakar ke Israel, dan larangan masuk terhadap individu yang dianggap terkait dengan konflik.
Dokumen pemberhentian duta besar yang ditandatangani oleh Raja Felipe VI berisi ucapan terima kasih atas pengabdian Sálomon Pérez dan tidak memuat kritik terhadap kinerjanya, menurut sumber diplomatik yang dikutip media Spanyol El País. Jika Madrid ingin kembali menempatkan duta besar penuh, pemerintah Spanyol harus menunjuk kandidat baru dan meminta persetujuan otoritas Israel.
Situasi saat ini membuat kedua negara sama-sama tidak memiliki duta besar di ibu kota masing-masing. Israel lebih dulu menarik duta besarnya dari Madrid pada November 2023 setelah Sánchez menyatakan keraguan atas kepatuhan Israel terhadap hukum kemanusiaan internasional.
Sejak saat itu, kedutaan Israel di Spanyol dipimpin oleh seorang diplomat senior berpangkat chargé d'affaires, Dana Erlich.
Dalam wawancara yang dipublikasikan Senin (9/3), Erlich memperingatkan bahwa hubungan yang memburuk dapat berdampak lebih luas bagi keamanan Spanyol. “Inilah saatnya bagi Spanyol untuk memutuskan siapa sekutunya,” katanya.
Ketegangan juga tercermin dalam pernyataan pejabat Spanyol. Menteri Luar Negeri José Manuel Albares menuduh Israel dan Amerika Serikat melanggar hukum internasional dalam operasi militer baru-baru ini terhadap Iran. Ia juga mengecam keputusan Israel menghentikan operasi kemanusiaan organisasi medis internasional Médecins Sans Frontières di Gaza.
Sejak perang Gaza pecah, Spanyol menjadi salah satu negara anggota Uni Eropa yang paling vokal mengkritik Israel. Pada Mei 2024, Madrid bersama Irlandia dan Norwegia secara resmi mengakui negara Palestina.
Sánchez juga berulang kali mendesak Uni Eropa menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Israel—sebuah langkah yang mendapat dukungan dari beberapa negara anggota, namun belum mencapai konsensus di tingkat blok tersebut.

0Komentar