Donald Trump, Presiden AS. | WHITE HOUSE

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan serangan militer terhadap Iran hampir kehabisan sasaran yang dinilai layak diserang. Dalam wawancara singkat melalui telepon dengan Axios, Trump menyebut perang dapat berakhir kapan saja karena menurutnya sebagian besar target militer Iran telah dihantam.

"Tinggal sedikit ini dan itu... Kapan pun saya ingin mengakhirinya, perang akan berakhir," kata Trump.

Pernyataan itu muncul ketika operasi militer gabungan AS–Israel yang disebut Operation Epic Fury memasuki hari ke-12. Komando Pusat AS melaporkan bahwa sejak operasi dimulai pada 28 Februari, lebih dari 5.000 target telah diserang dan sedikitnya 50 kapal Iran dirusak atau dihancurkan.

Trump juga memperingatkan bahwa Washington akan merespons jauh lebih keras jika Iran mencoba menghambat jalur perdagangan energi di kawasan Teluk. Ia mengatakan AS akan membalas “dua puluh kali lebih keras” bila Teheran memblokir pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Meski demikian, nada optimistis dari Trump tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan sejumlah pejabat lain yang terlibat dalam konflik tersebut.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan operasi militer akan terus berlanjut tanpa batas waktu. Menurutnya, kampanye militer akan diteruskan sampai seluruh tujuan yang ditetapkan Israel tercapai.

“Kampanye ini akan berlanjut tanpa batasan waktu, selama diperlukan, sampai kami mencapai semua tujuan dan menentukan hasil kampanye,” ujar Katz, seraya menuduh para pemimpin Iran kini bersembunyi “seperti tikus ke dalam terowongan”.

Dari pihak Iran, pernyataan berbeda juga disampaikan oleh pejabat militer. Ali Fadavi, penasihat komandan tertinggi Garda Revolusi Iran, mengatakan Amerika Serikat dan Israel harus bersiap menghadapi konflik berkepanjangan.

“Mereka harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka akan terlibat dalam perang adu kekuatan jangka panjang yang akan menghancurkan seluruh ekonomi Amerika dan ekonomi dunia, dan akan menyebabkan semua kemampuan militer mereka terkikis hingga hancur,” kata Fadavi di televisi pemerintah Iran.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga menolak klaim Trump bahwa kekuatan militer Iran telah melemah. Dalam pernyataan terpisah, korps elite itu mengatakan pihaknyalah yang akan menentukan kapan perang berakhir.

Perbedaan pernyataan dari para pihak menunjukkan belum adanya kejelasan mengenai arah konflik. Meskipun Trump menyatakan operasi militer hampir mencapai tujuannya, sejumlah pejabat AS dan Israel tidak menyebutkan garis waktu yang jelas untuk menghentikan serangan, menurut laporan Moneycontrol.

Analisis Reuters menyebut Iran tampaknya berusaha bertahan lebih lama dari lawannya dengan menekan pasokan energi global dan meningkatkan tekanan ekonomi. Sejumlah sumber regional yang dikutip media tersebut mengatakan Teheran kemungkinan masih mempertahankan lebih dari setengah persenjataan militernya sebelum perang.

Konflik yang pecah setelah serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei itu telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran, menurut data yang disampaikan duta besar Iran untuk PBB.

Pertempuran juga mengguncang pasar energi global karena gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk.