![]() |
| Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). | Truth/Donald Trump |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari di tengah tekanan diplomatik intens dari Arab Saudi dan Israel, meski penilaian intelijen AS menyebut Teheran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap wilayah Amerika setidaknya dalam satu dekade ke depan.
Serangan yang dinamai Operasi Epic Fury itu menandai eskalasi tajam ketegangan di Timur Tengah. Laporan The Washington Post, yang mengutip empat sumber yang mengetahui pembahasan internal, menyebut keputusan tersebut diambil setelah berminggu-minggu lobi di balik layar oleh para sekutu utama Washington di kawasan.
Menurut laporan itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman beberapa kali melakukan panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir untuk mendorong tindakan militer terhadap Iran. Upaya tersebut berlangsung ketika Riyadh secara terbuka tetap menyatakan dukungan terhadap penyelesaian diplomatik dan menegaskan wilayahnya tidak akan digunakan sebagai basis serangan.
Kepada pejabat AS, Mohammed bin Salman disebut memperingatkan bahwa tanpa tindakan cepat, Iran berpotensi muncul “lebih kuat dan lebih berbahaya”. Posisi tersebut kontras dengan sikap resmi pemerintah Saudi yang berupaya menjaga jarak dari konflik terbuka.
Israel mengambil pendekatan yang lebih terbuka. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara publik mendesak Washington bertindak, dengan menyebut serangan diperlukan untuk menghilangkan “ancaman eksistensial” dari Iran. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar juga menilai penundaan hanya akan memberi waktu bagi Teheran memperkuat program nuklirnya.
Keputusan Trump memicu perhatian karena bertentangan dengan sebagian penilaian komunitas intelijen AS sendiri. The New York Times melaporkan Badan Intelijen Pertahanan menilai Iran masih membutuhkan sekitar satu dekade untuk mengatasi hambatan teknologi sebelum mampu mengembangkan sistem rudal yang dapat mengancam daratan Amerika.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta sejumlah pakar nuklir internasional juga dilaporkan tidak menemukan bukti bahwa Iran kembali melanjutkan pengayaan uranium untuk tujuan militer dalam periode terbaru.
Sebelum operasi disetujui, Trump menerima pengarahan dari Direktur CIA John Ratcliffe, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, bahkan terbang ke Washington untuk menghadiri diskusi di Situation Room.
Menurut laporan Reuters, para pejabat militer menggambarkan rencana tersebut sebagai operasi “berisiko tinggi, hasil tinggi”. Mereka memperingatkan kemungkinan serangan balasan rudal Iran terhadap pangkalan AS yang berpotensi melampaui kapasitas pertahanan, namun juga menyebut peluang perubahan strategis jangka panjang di Timur Tengah yang dinilai menguntungkan kepentingan Washington.
Serangan gabungan AS dan Israel kemudian menghantam ratusan target di berbagai wilayah Iran. Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi tersebut, meski belum ada konfirmasi independen dari pihak Iran.
Teheran merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah negara Arab Teluk. Garda Revolusi Iran menyatakan akan menjalankan “operasi ofensif paling ganas dalam sejarah angkatan bersenjata Iran”.
Dalam hari-hari awal konflik, tiga tentara AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka berat akibat serangan balasan. Saat operasi memasuki hari ketiga pada 1 Maret, Trump menulis di platform Truth Social bahwa setiap aksi lanjutan Iran akan dibalas dengan “kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya”.

0Komentar