Mohammed bin Salman (MBS), Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi. | MIDDLE EAST MONITOR


Arab Saudi menyatakan siap merespons secara militer setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah kota di kawasan Teluk, termasuk Riyadh, dalam eskalasi terbaru yang secara drastis mengubah posisi kerajaan yang sebelumnya berupaya menjaga jarak dari konflik langsung dengan Teheran.

Pemerintah Saudi mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sebagian besar serangan yang menargetkan ibu kota dan provinsi-provinsi timur pada Minggu (1/3). Putra Mahkota Mohammed bin Salman kemudian memerintahkan angkatan bersenjata untuk bersiap melakukan serangan balasan bila diperlukan, menurut laporan CNN yang mengutip pejabat terkait.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengecam serangan tersebut sebagai tindakan agresi terbuka. “Kerajaan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan dan melindungi wilayah serta warga negaranya,” demikian pernyataan resmi pemerintah Saudi, yang juga menegaskan opsi respons militer tetap terbuka.

Dari netral ke ambang perang

Langkah Riyadh menandai perubahan sikap yang tajam dibandingkan posisi sebelumnya. Pada akhir Januari, Mohammed bin Salman dilaporkan telah meyakinkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.

Namun laporan The Washington Post menyebutkan bahwa dalam komunikasi tertutup dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, putra mahkota Saudi justru mendorong langkah militer terhadap Teheran. Dalam beberapa percakapan telepon pribadi, ia memperingatkan bahwa kegagalan bertindak akan membuat Iran menjadi “lebih kuat dan lebih berbahaya”.

Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman juga menyampaikan kekhawatiran serupa dalam pertemuan tertutup dengan pejabat AS di Washington, menurut laporan media tersebut.

Ketegangan meningkat tajam setelah AS dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu, yang oleh Pentagon diberi nama kode Epic Fury. Serangan itu dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior pada tahap awal operasi.

Iran kemudian membalas dengan ratusan rudal dan drone yang menargetkan instalasi militer AS dan negara-negara sekutunya di kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Israel.

Dampak di kawasan Teluk

Serangan balasan Iran turut menghantam wilayah sipil di sejumlah negara Teluk. Otoritas setempat melaporkan kebakaran di sebuah hotel mewah di Dubai serta kerusakan bangunan di Bahrain, memicu kecaman dari berbagai pemerintah di dunia.

Dalam respons diplomatiknya, Mohammed bin Salman menghubungi para pemimpin Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania untuk menegaskan dukungan keamanan regional. Ia menyatakan Arab Saudi siap menempatkan seluruh kemampuannya guna membantu negara-negara mitra menghadapi situasi tersebut.

Riyadh juga memanggil duta besar Iran pada Minggu untuk menyampaikan protes resmi atas serangan yang disebut menargetkan wilayah sipil dan infrastruktur vital.

Selama beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk berusaha menjaga keseimbangan hubungan antara Washington dan Teheran, terutama setelah upaya normalisasi diplomatik regional. Serangan lintas negara yang terjadi akhir pekan ini dinilai menghapus ruang netralitas tersebut dan meningkatkan tekanan bagi negara-negara kawasan untuk menentukan posisi keamanan mereka di tengah konflik yang meluas.