pertemuan antara dua pemimpin penting di Timur Tengah: Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) (sebelah kiri) dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) (sebelah kanan). | ANADOLU AGENCY

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menelepon Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan pada Sabtu, menyusul gelombang serangan rudal Iran yang menghantam sejumlah ibu kota di kawasan Teluk. Riyadh menyatakan solidaritas penuh kepada Abu Dhabi di tengah eskalasi yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.

Menurut kantor berita resmi UEA, WAM, dalam percakapan itu Mohammed bin Salman menyatakan solidaritas penuh Kerajaan dengan UEA dan berjanji siap menempatkan seluruh kemampuannya untuk mendukung negara tersebut. Sheikh Mohammed bin Zayed menyampaikan apresiasi atas sikap tegas dan solidaritas persaudaraan Arab Saudi.

Kedua pemimpin memperingatkan bahwa serangan Iran merupakan "eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan regional dan merusak stabilitas", serta menyerukan pengekangan dan solusi diplomatik guna menjaga keamanan kawasan.

Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara Teluk yang menjadi tuan rumah fasilitas militer Amerika Serikat, sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel terhadap target-target Iran pada Sabtu pagi.

Ledakan dilaporkan terdengar di Abu Dhabi, Doha, Riyadh, Kuwait, dan Bahrain, menurut Reuters. Media pemerintah UEA menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah rudal, namun puing dari salah satu pencegatan jatuh di area permukiman Abu Dhabi dan menewaskan seorang warga sipil.

Bahrain mengonfirmasi bahwa markas Armada Kelima Angkatan Laut AS menjadi sasaran. Qatar menyebut sedikitnya dua gelombang serangan berhasil dicegat tanpa korban jiwa.

Garda Revolusi Iran menyatakan serangan itu menargetkan instalasi militer AS, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, dan Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam apa yang disebutnya sebagai "agresi brutal Iran" dan menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap kedaulatan UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Riyadh juga memperingatkan adanya "konsekuensi serius".

Solidaritas yang ditunjukkan Riyadh dan Abu Dhabi muncul setelah hubungan kedua negara sempat merenggang dalam beberapa bulan terakhir. Ketegangan meningkat pada Desember 2025 setelah Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA melancarkan serangan di Yaman selatan.

Arab Saudi kemudian mengebom apa yang disebutnya sebagai pengiriman senjata Emirati di pelabuhan Mukalla pada 30 Desember. Langkah itu mendorong UEA menarik sisa pasukannya dari Yaman.

Laporan The New York Times menyebut perseteruan tersebut sebagian dipicu oleh permintaan Mohammed bin Salman kepada Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi terhadap UEA atas dukungannya kepada faksi bersenjata dalam perang saudara Sudan.

Gelombang rudal Iran kini memaksa kedua negara Teluk itu menata ulang koordinasi keamanan mereka. Sejumlah ibu kota kawasan menutup ruang udara dan menangguhkan penerbangan, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.