Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, saat menghadiri KTT APEC 2025 yang diselenggarakan di Gyeongju, Korea Selatan. | BPMI SETPRES

Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk bertolak ke Teheran guna memediasi konflik setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran gagal dan memicu eskalasi militer. Pemerintah Indonesia menyebut langkah itu akan diambil apabila disetujui oleh para pihak yang terlibat.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam pernyataan pada Sabtu (28/2/2026) menegaskan Indonesia menyesalkan kegagalan diplomasi yang berujung pada pecahnya perang. Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah AS bersama Israel kembali melancarkan serangan ke Iran.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi,” demikian pernyataan Kemlu RI.

Pemerintah menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog demi meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas keamanan. Indonesia, menurut Kemlu, memandang jalur diplomasi sebagai mekanisme utama untuk mencegah konflik meluas di kawasan.

“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif,” lanjut pernyataan tersebut.

Eskalasi terbaru terjadi setelah pembicaraan antara Washington dan Teheran kembali menemui jalan buntu. Serangan yang dilaporkan melibatkan AS dan Israel menandai babak baru ketegangan yang sebelumnya sempat diwarnai upaya negosiasi.

Indonesia juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri. “Indonesia menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai,” ujar Kemlu RI.

Langkah Prabowo untuk terbang langsung ke Iran, jika terealisasi, menandai upaya Indonesia mengambil peran lebih aktif dalam merespons dinamika keamanan global di tengah meningkatnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.