![]() |
| drone pencegat STING asal Ukraina yang bersanding dengan bagian ekor dari drone kamikaze Geran-2 (varian Rusia dari drone Shahed-136 buatan Iran) yang berhasil dijatuhkannya. | WILD HORNETS |
Produsen minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco, dilaporkan tengah bernegosiasi dengan perusahaan Ukraina untuk memperoleh drone pencegat yang dirancang melindungi fasilitas energi dari serangan udara tanpa awak.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada 12 Maret, perusahaan minyak milik negara Arab Saudi itu membuka pembicaraan dengan dua produsen drone Ukraina, SkyFall dan Wild Hornets. Kedua perusahaan tersebut mengembangkan drone interseptor yang dirancang menabrak atau meledak di dekat drone musuh.
Negosiasi tersebut muncul di tengah kekhawatiran yang meningkat atas serangan drone terhadap instalasi energi di kawasan Teluk. Aramco dilaporkan berupaya mengamankan teknologi ini lebih cepat, bahkan sebelum pemerintah Arab Saudi sendiri menyelesaikan pengadaan serupa, serta di tengah minat negara-negara kawasan seperti Qatar.
Laporan itu pertama kali diungkap oleh publikasi Prancis Intelligence Online.
Respons terhadap rangkaian serangan Iran
Pembicaraan tersebut berlangsung setelah beberapa insiden yang menargetkan fasilitas energi Saudi.
Pada 7 Maret, sebuah drone yang diduga diluncurkan dari Iran menghantam ladang minyak Berri milik Aramco. Lapangan minyak itu memiliki kapasitas produksi sekitar 250.000 barel per hari.
Drone tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai target utama, tetapi puing-puingnya tetap menimbulkan kerusakan kecil di fasilitas tersebut.
Beberapa hari sebelumnya, pada 2 Maret, drone lain menyerang kilang minyak Ras Tanura. Serangan itu memicu kebakaran dan memaksa Aramco menghentikan operasi kilang sementara waktu.
Selain drone interseptor, pejabat Saudi juga disebut tengah berdiskusi dengan perusahaan Ukraina Phantom Defense mengenai kemungkinan pembelian sistem perang elektronik untuk mengganggu komunikasi drone.
Pengalaman perang Ukraina diminati
Permintaan terhadap teknologi tersebut muncul dari pengalaman Ukraina dalam menghadapi serangan drone Shahed buatan Iran selama perang melawan Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada 10 Maret bahwa setidaknya 11 negara telah meminta bantuan Kyiv untuk mempelajari cara menghadapi ancaman drone.
Ukraina, menurutnya, telah mengirim spesialis militer ke beberapa negara Teluk termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi. Kyiv juga mengirim drone pencegat serta tim teknis untuk membantu melindungi pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.
"Tanpa pengalaman kami, akan sangat sulit bagi kawasan Teluk, seluruh Timur Tengah, dan mitra di Eropa dan Amerika untuk melindungi diri mereka sendiri," kata Zelensky.
Data yang dikutip Reuters menunjukkan salah satu sistem yang diminati adalah drone interseptor P1-SUN buatan SkyFall. Drone tersebut diperkirakan berbiaya sekitar US$1.000 per unit bagi militer Ukraina.
Menurut perusahaan itu, sistem tersebut telah menjatuhkan lebih dari 1.500 drone Shahed dan lebih dari 1.000 UAV lain dalam empat bulan terakhir.
SkyFall menyatakan kapasitas produksinya dapat mencapai 50.000 drone per bulan ketika beroperasi penuh, dengan sekitar 5.000 hingga 10.000 unit berpotensi dialokasikan untuk pasar ekspor.

0Komentar