![]() |
| kapal kargo curah (bulk carrier) besar yang sedang dipantau oleh kapal patroli cepat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di wilayah Selat Hormuz. | NUR PHOTO |
China untuk pertama kalinya secara terbuka mengecam serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial dan negara-negara Teluk, sebuah teguran langka terhadap sekutu dekat Beijing ketika perang di Timur Tengah memasuki minggu ketiga.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers rutin pada Kamis (13/3). Ia menanggapi laporan serangan drone Iran yang menargetkan fasilitas minyak Shaybah di Arab Saudi.
“China tidak mendukung serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk dan mengecam serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil atau target non-militer,” kata Guo.
Riyadh sebelumnya menyatakan berhasil mencegat lebih dari 70 drone yang diarahkan ke ladang minyak Shaybah. Serangan itu menjadi bagian dari eskalasi yang lebih luas di kawasan Teluk, di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Serangan di jalur energi dunia
Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur sempit ini menjadi salah satu urat nadi energi dunia.
Data yang dikutip Euronews menyebut sedikitnya 19 kapal komersial mengalami kerusakan sejak konflik meletus. Pasukan Iran dilaporkan menargetkan kapal-kapal yang melintas di sekitar selat tersebut.
Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, serta sekitar 20% perdagangan gas alam cair global.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap kapal kargo dan tanker. Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, memperingatkan bahwa kapal-kapal yang ingin melintas harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari Iran.
Pada Kamis (12/3) saja, tiga kapal komersial dilaporkan menjadi sasaran serangan. Salah satunya adalah tanker berbendera Kepulauan Marshall, Safesea Vishnu, yang menurut IRGC diserang karena “tidak patuh dan mengabaikan peringatan”.
Militer Amerika Serikat merespons dengan operasi terhadap aset angkatan laut Iran di kawasan itu. Komandan US Central Command (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan pasukannya telah menyerang “lebih dari 5.500 target di dalam Iran, termasuk lebih dari 60 kapal”.
Ketegangan di Teluk juga dipicu perubahan kepemimpinan di Iran. Mojtaba Khamenei mengambil alih posisi pemimpin tertinggi pada 9 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.
Dalam pernyataan publik pertamanya, Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz harus terus digunakan sebagai “alat untuk menekan musuh”.
Pernyataan itu menandai sikap yang lebih keras dari kepemimpinan baru Tehran terhadap Barat dan sekutu-sekutunya di kawasan.
Kepentingan besar China
Bagi China, konflik ini membawa risiko ekonomi yang signifikan. Negara itu merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan menjadi pembeli utama minyak Iran.
Lebih dari 80% ekspor minyak Iran diketahui menuju China. Selain itu, sekitar 45–50% total impor minyak mentah China melewati Selat Hormuz.
Laporan Associated Press menyebut sejumlah kapal komersial mulai mengidentifikasi diri sebagai kapal yang terkait dengan China saat melintasi selat tersebut. Langkah itu disebut sebagai upaya menghindari serangan Iran.
Tehran sebelumnya mengisyaratkan bahwa pembatasan pelayaran terutama ditujukan pada kapal dari AS, Israel, dan sekutu Barat.
Di tengah ketegangan itu, Beijing berusaha mempertahankan posisi diplomatik yang berhati-hati.
China mengkritik serangan Iran terhadap target sipil, tetapi pada saat yang sama mengecam kampanye militer AS–Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional karena dilakukan “tanpa otorisasi PBB”.
Dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangan Iran, China memilih abstain. Beijing menyatakan rancangan resolusi tersebut “tidak mencerminkan akar penyebab konflik secara berimbang”.
Utusan khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, kini melakukan diplomasi ulang-alik di kawasan. Menteri Luar Negeri Wang Yi juga melakukan serangkaian percakapan telepon dengan para pejabat regional untuk mendorong de-eskalasi.
“Ini adalah perang yang seharusnya tidak terjadi,” kata Wang. “Ini tidak menguntungkan siapa pun.”

0Komentar