Laporan intelijen Amerika Serikat menyebut Rusia diduga memberikan dukungan informasi penargetan kepada Iran terkait posisi aset militer AS di Timur Tengah sejak konflik terbaru di kawasan itu meletus pada akhir Februari.
Informasi tersebut diungkap The Washington Post, yang mengutip tiga pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen itu. Menurut mereka, bantuan Moskwa mencakup data waktu nyata mengenai lokasi kapal perang dan pesawat tempur AS di kawasan.
Jika akurat, langkah itu menjadi indikasi awal keterlibatan tidak langsung Rusia dalam konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
“Ini tampaknya merupakan upaya yang cukup komprehensif,” kata salah satu pejabat AS kepada The Washington Post.
Kemampuan pengawasan Iran melemah
Berbagi intelijen tersebut disebut terjadi saat kemampuan pengawasan Iran melemah setelah operasi militer gabungan AS dan Israel yang diberi nama Operation Epic Fury. Operasi itu dilaporkan menargetkan ribuan instalasi militer Iran, termasuk radar, pusat komando, dan aset angkatan laut.
Serangan tersebut dinilai mengurangi kemampuan Teheran untuk memantau pergerakan militer di kawasan. Dalam situasi itu, Rusia diperkirakan mampu mengisi kekosongan melalui jaringan satelit dan sistem pengawasan militernya.
Sejumlah analis menilai ketepatan serangan Iran dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu indikasi kemungkinan adanya bantuan intelijen tambahan.
Analis militer Rusia di lembaga riset pertahanan RAND Corporation yang dikutip Reuters, Dara Massicot, mengatakan pola serangan menunjukkan penargetan yang sangat spesifik.
“Mereka melakukan ini dengan cara yang sangat tertarget,” katanya. “Mereka menyerang komando dan kontrol.”
Sejak pertempuran dimulai pada 28 Februari, Iran dilaporkan meluncurkan ribuan drone serta ratusan rudal ke berbagai lokasi militer AS dan fasilitas diplomatik di kawasan Timur Tengah.
Salah satu serangan drone di Kuwait dilaporkan menewaskan enam personel militer Amerika.
Hubungan militer Rusia–Iran semakin erat
Pejabat AS menilai Moskwa mungkin melihat langkah tersebut sebagai bentuk balasan atas dukungan Iran sebelumnya dalam perang di Ukraina.
Teheran diketahui memasok teknologi drone serang yang digunakan Rusia secara luas dalam konflik tersebut.
“Saya pikir mereka sangat senang untuk mencoba membalas budi,” kata seorang pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen tersebut.
Hubungan kedua negara memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Rusia dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada Januari 2025 yang memperdalam koordinasi militer dan keamanan.
Laporan mengenai dukungan Rusia itu muncul tidak lama setelah pernyataan publik dari pejabat pertahanan AS yang terkesan meremehkan keterlibatan negara lain dalam konflik tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya mengatakan Rusia maupun Tiongkok bukan faktor utama dalam pertempuran yang sedang berlangsung.
“Saya tidak punya pesan untuk mereka, dan mereka sebenarnya bukan faktor di sini,” kata Hegseth dalam konferensi pers pada 4 Maret.
Di sisi lain, Rusia berupaya menampilkan diri sebagai pihak yang mendorong penyelesaian diplomatik.
Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan berbicara dengan sejumlah pemimpin negara Teluk pada 2 Maret dan menawarkan peran Moskwa sebagai mediator. Namun pemerintah Rusia juga menegaskan tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.
Juru bicara Kremlin Dmitri Peskov mengatakan perang yang sedang berlangsung “bukanlah perang kami”, menurut laporan The New York Times.
Moskwa secara terbuka mengecam serangan militer AS dan Israel terhadap Iran serta menyebut pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebagai “pelanggaran sinis” terhadap norma internasional.

0Komentar