![]() |
| Teller menghitung uang di Bank BNI, Jakarta, Kamis (21/4/2022). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan |
Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan lanjutan dan berpotensi melemah hingga kisaran Rp20.400 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan kerentanan struktural ekonomi domestik.
Peringatan itu muncul menjelang dibukanya kembali pasar keuangan Indonesia usai libur Lebaran, ketika pelaku pasar mulai mengantisipasi akumulasi tekanan eksternal selama periode penghentian aktivitas moneter.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah sudah menunjukkan pelemahan. Pada perdagangan 24 Maret 2026, mata uang domestik dibuka di Rp16.996,5 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di Rp16.985 per dolar AS pada 16 Maret, atau turun sekitar 1,29% dibanding akhir Februari.
Tekanan tersebut datang di tengah penguatan dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Managing Director Political Economy and Policy Studies Anthony Budiawan menilai potensi pelemahan hingga Rp20.400 bukan sekadar spekulasi pasar, melainkan mencerminkan pola historis rupiah saat menghadapi guncangan eksternal dalam satu dekade terakhir.
Ia mengaitkan risiko tersebut dengan konflik di Iran yang dinilai dapat memicu gangguan pada rantai pasok minyak dan gas dunia.
"Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia," ujar Anthony.
Ia juga menyoroti struktur cadangan devisa Indonesia yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental. Menurutnya, sebagian cadangan ditopang oleh utang luar negeri dan digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Ferry Latuhihin yang memperkirakan pelemahan rupiah dapat berlanjut hingga Rp22.000 per dolar AS pada kuartal III-2026. Ia juga mengingatkan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 3% dalam periode yang sama.
Di sisi pasar, penghentian operasi moneter selama libur Lebaran dinilai menambah tekanan tersendiri. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan jeda aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan penyesuaian nilai tukar yang tertunda.
Ketika pasar kembali beroperasi normal pada 25 Maret, tekanan yang terakumulasi berisiko langsung tercermin dalam pergerakan rupiah.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Maret 2026, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bank sentral akan terus melakukan intervensi di pasar, termasuk melalui skema triple intervention di pasar spot, DNDF, dan obligasi pemerintah.
"Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah," kata Perry.
Data yang dikutip Reuters menunjukkan cadangan devisa Indonesia mencapai US$156,5 miliar pada akhir 2025, mendekati level tertinggi historis. Namun sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s, S&P, dan Fitch telah mengingatkan adanya peningkatan risiko terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang berlanjut.

0Komentar