Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara selama pertemuan di Teheran, Iran, 17 Februari 2026. Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel di Teheran setelah badan intelijen Amerika Serikat, CIA, memantau pergerakannya selama berbulan-bulan dan memberikan informasi lokasi dengan tingkat akurasi tinggi. Serangan itu menewaskan lebih dari 40 pejabat senior politik dan militer Iran dalam satu operasi yang berlangsung cepat pada Sabtu pagi.

Laporan The New York Times, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut, menyebut pemantauan intensif CIA akhirnya mengungkap pertemuan langka para elite keamanan Iran di sebuah kompleks pemerintahan di pusat ibu kota. 

Informasi itu kemudian dibagikan kepada Israel, memicu percepatan rencana kampanye militer gabungan yang sebelumnya telah disusun selama beberapa pekan oleh Israel dan Amerika Serikat.

Terobosan intelijen terjadi ketika sumber CIA mengetahui bahwa Khamenei akan menghadiri rapat pada Sabtu pagi bersama sejumlah ajudan keamanan senior. Jadwal tersebut berbeda dari perkiraan awal yang mengantisipasi pertemuan berlangsung pada malam hari, sehingga membuka peluang serangan dengan elemen kejutan.

Serangan pembuka

Angkatan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan gelombang awal operasi militer yang dinamai Operasi Singa Mengaum menewaskan puluhan komandan senior Iran “dalam waktu satu menit”. 

Sebuah citra satelit menunjukkan asap hitam membubung dan kerusakan parah di kompleks Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyusul serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, di Teheran, Iran 28 Februari 2026. | Pleiades Neo (c) Airbus DS 2026

Juru bicara IDF Brigadir Jenderal Effie Defrin menyebut sejumlah lokasi di Teheran diserang secara bersamaan, termasuk bangunan tempat tujuh anggota pimpinan keamanan tertinggi Iran berkumpul.

Menurut pejabat pertahanan Israel, jet tempur lepas landas sekitar pukul 06.00 waktu setempat dengan membawa amunisi presisi jarak jauh. Sekitar dua jam kemudian, rudal menghantam kompleks pemerintahan tersebut.

Para pejabat keamanan nasional Iran berada di satu gedung, sementara Khamenei disebut berada di bangunan terdekat ketika serangan terjadi. Seorang pejabat Israel mengatakan operasi itu berhasil mencapai “kejutan taktis” meski Iran sebelumnya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan perang.

Tokoh-tokoh penting yang tewas

Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian sejumlah pejabat tinggi, termasuk Ali Shamkhani, mantan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran; Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, komandan Korps Pengawal Revolusi Islam; serta Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, kepala staf angkatan bersenjata Iran. Kantor berita negara IRNA melaporkan konfirmasi tersebut pada Minggu.

Pada waktu hampir bersamaan, Amerika Serikat meluncurkan operasi militernya sendiri yang dinamai Epic Fury, menyerang sekitar 900 target di berbagai wilayah Iran. 

Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei pada Sabtu dan menyebutnya sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah”, seraya memperingatkan serangan akan berlanjut “sepanjang minggu atau selama yang diperlukan”.

Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi pada Minggu dini hari bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu tewas di kantornya saat serangan berlangsung. Khamenei memimpin Republik Islam Iran sejak 1989 dan menjadi figur paling berpengaruh dalam sistem politik negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Reuters melaporkan sebuah dewan sementara yang terdiri dari presiden Iran, kepala lembaga kehakiman, dan seorang ulama dari Dewan Wali akan mengambil alih fungsi kepemimpinan negara.

Belum adanya pengganti yang diumumkan, ditambah hilangnya sebagian besar jajaran komando militer senior dalam serangan tersebut, meninggalkan ketidakpastian mengenai struktur kepemimpinan Iran setelah operasi militer itu.