Vladimir Putin, Presiden Rusia. | TASS

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (9/3) memerintahkan perusahaan minyak dan gas negaranya memanfaatkan lonjakan harga energi global untuk mempercepat pelunasan utang. Ia memperingatkan bahwa kenaikan harga yang dipicu konflik di Timur Tengah kemungkinan hanya bersifat sementara.

Arahan itu disampaikan dalam pertemuan yang disiarkan televisi bersama pejabat pemerintah dan para pimpinan perusahaan energi utama Rusia. Pertemuan tersebut berlangsung ketika harga minyak dunia melonjak tajam akibat eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam pertemuan itu, Putin meminta industri energi Rusia mengambil keuntungan dari situasi pasar saat ini.

"Memanfaatkan situasi saat ini di Timur Tengah," kata Putin, seperti dilaporkan Reuters yang dikutip oleh Global Banking and Finance.

Laporan Bloomberg juga menyebut Putin mendesak produsen minyak dan gas Rusia memanfaatkan harga komoditas yang sedang melonjak untuk menekan beban utang perusahaan.

Lonjakan harga minyak terjadi ketika pasar energi global terguncang oleh konflik yang meningkat di Teluk Persia. Harga minyak mentah Brent sempat mendekati US$120 per barel dalam perdagangan semalam sebelum stabil di kisaran US$102 hingga US$111.

Kenaikan itu terjadi setelah Selat Hormuz—jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak laut dunia—secara efektif tertutup akibat operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Perubahan situasi ini memberi keuntungan baru bagi Rusia setelah sebelumnya menghadapi tekanan fiskal besar. Pendapatan negara dari minyak dan gas dilaporkan turun hampir 25% sepanjang 2025

Penurunan tersebut memperlebar defisit anggaran Rusia dan memicu serangkaian pertemuan darurat di Moskwa antara Putin dan pejabat ekonomi senior.

Bahkan pada Februari lalu, pendapatan bulanan dari sektor energi Rusia diperkirakan turun hampir setengah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Reuters melaporkan defisit publik Rusia berpotensi membengkak hingga hampir tiga kali lipat dari target resmi pemerintah.

Lonjakan harga energi kini mengubah situasi itu. Juru bicara Kremlin Dmitri Peskov mengatakan konflik di Iran memicu peningkatan permintaan terhadap pasokan energi Rusia.

"Ada kenaikan permintaan yang mencolok, peningkatan signifikan dalam permintaan terhadap pemasok energi Rusia akibat konflik di Iran," ujar Peskov, seperti dikutip The New York Times.

Analis di JPMorgan Chase memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu penurunan produksi minyak di kawasan Teluk hingga sekitar 4,7 juta barel per hari dalam beberapa pekan mendatang.

Dalam pertemuan yang sama, Putin juga memberi sinyal kepada Eropa bahwa Rusia masih terbuka untuk melanjutkan pasokan energi—dengan syarat hubungan kerja sama jangka panjang tanpa tekanan politik.

"Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan pembeli-pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengubah orientasi mereka dan memberikan kami kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan, tanpa tekanan politik ... maka silakan saja. Kami tidak pernah menolak," kata Putin, menurut laporan The Moscow Times.

Namun ia juga mengisyaratkan kemungkinan Rusia menghentikan pasokan energi ke Eropa sepenuhnya dan mengalihkan ekspor ke pasar lain.

"Pasar-pasar lain sedang terbuka. Mungkin akan lebih menguntungkan bagi kami untuk menghentikan pasokan ke pasar Eropa sekarang juga," ujar Putin kepada wartawan televisi negara Pavel Zarubin dalam wawancara pekan lalu.

Pernyataan tersebut muncul ketika sejumlah negara Eropa masih bergulat dengan dampak sanksi energi terhadap Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022.

Uni Eropa sebelumnya melarang impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut. Sisa ekspor melalui jaringan pipa yang menuju Hungaria dan Slovakia juga praktis terhenti sejak Januari setelah pipa Druzhba yang melewati Ukraina mengalami kerusakan.