Bendera Israel dan Somaliland di pintu masuk perkebunan buah antara ibu kota Hargeisa dan kota pelabuhan Berbera, 19 Februari 2026. EPA


Israel tengah menjajaki rencana membangun kehadiran militer dan intelijen di Somaliland, wilayah Afrika Timur yang memisahkan diri dari Somalia. Langkah ini disebut berkaitan dengan upaya Israel menghadapi ancaman kelompok bersenjata Houthi movement di seberang Teluk Aden.

Laporan yang dikutip oleh Bloomberg menyebutkan rencana tersebut dapat membuka jalan bagi Israel untuk mengumpulkan intelijen sekaligus menjalankan operasi terhadap Houthi dari wilayah pesisir Afrika Timur. Informasi itu disampaikan oleh dua pejabat Somaliland yang mengetahui pembicaraan tersebut namun meminta identitasnya dirahasiakan.

Pejabat pemerintah Somaliland tidak secara eksplisit menyatakan bahwa pangkalan militer akan dibangun. Namun mereka mengakui bahwa kerja sama keamanan dengan Israel sedang dipertimbangkan.

Menteri kepresidenan Somaliland, Khadar Hussein Abdi, mengatakan hubungan kedua pihak sedang diarahkan pada kemitraan strategis yang lebih luas.

“Dalam hal keamanan, kami akan memiliki hubungan strategis dan itu mencakup banyak hal,” kata Abdi dalam wawancara di Hargeisa seperti dikutip Bloomberg. “Kami belum membahas dengan mereka apakah ini akan menjadi pangkalan militer, tetapi sudah pasti akan ada analisis di suatu titik.”

Peninjauan lokasi di pesisir

Pembicaraan tersebut muncul setelah pejabat keamanan Israel disebut telah mengunjungi garis pantai Somaliland pada Juni lalu untuk menilai kemungkinan lokasi fasilitas militer atau intelijen.

Beberapa sumber yang mengetahui kunjungan tersebut mengatakan peninjauan difokuskan pada area pesisir yang menghadap langsung ke jalur pelayaran strategis di Teluk Aden. Salah satu titik yang disebut dipertimbangkan berada di dataran tinggi sekitar 100 kilometer barat kota pelabuhan Berbera.

Berbera sendiri memiliki posisi penting di kawasan itu. Pelabuhan komersialnya dioperasikan oleh perusahaan logistik Uni Emirat Arab, DP World, yang juga mengelola landasan pacu yang dapat digunakan untuk kepentingan militer.

Laporan dari Middle East Eye menyebut Israel juga mulai memperluas kehadirannya di ibu kota Somaliland, Hargeisa. Sejumlah kamar di sebuah hotel disewa dan dilengkapi dengan jendela tahan ledakan, sementara pejabat Israel disebut sedang mencari lokasi untuk kemungkinan kedutaan.

Hubungan kedua pihak berkembang cepat setelah Israel secara resmi mengakui Somaliland pada 26 Desember tahun lalu. Tak lama setelah itu, lebih dari selusin pejabat militer senior Somaliland dilaporkan melakukan perjalanan ke Israel untuk mengikuti pelatihan keamanan.

Ancaman Houthi bagi Israel

Di kalangan intelijen Israel, kelompok Houthi di Yaman kini dipandang sebagai salah satu ancaman utama bagi negara tersebut. Pandangan ini muncul setelah serangkaian serangan dan gangguan terhadap jalur pelayaran internasional di kawasan Laut Merah.

Sejak akhir 2023, Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bagian dari konflik regional yang lebih luas. Gangguan itu sempat membuat lalu lintas pelayaran melalui Teluk Aden turun hingga 70%, menurut berbagai laporan industri maritim.

Serangan juga menjangkau wilayah Israel sendiri. Pada September 2025, sebuah serangan menyebabkan operasional di Bandara Ramon sempat terhenti. Dalam insiden lain, proyektil yang ditembakkan menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam sebuah hotel di kota pelabuhan Eilat.

Seorang jenderal Israel yang dikutip Bloomberg mengatakan militer negara itu telah membentuk unit intelijen khusus untuk memantau aktivitas Houthi, yang disebut memiliki ratusan roket dengan jangkauan hingga wilayah Israel.

Ketegangan meningkat lebih jauh setelah Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari. Meski Houthi belum kembali menyerang kapal-kapal sejak operasi itu dimulai, kelompok tersebut memberi sinyal bahwa mereka dapat terlibat langsung dalam konflik yang lebih luas.

Kecaman dari Somalia dan Houthi

Rencana kehadiran Israel di Somaliland memicu reaksi keras dari berbagai pihak di kawasan.

Pemimpin Houthi, Abdel-Malik al-Houthi, sebelumnya memperingatkan bahwa setiap fasilitas Israel di Somaliland akan diperlakukan sebagai target militer.

Pemerintah federal Somalia juga mengecam langkah tersebut. Mogadishu tetap menganggap Somaliland sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya meskipun wilayah itu telah menyatakan kemerdekaan sejak awal 1990-an.

Arab Saudi turut mengkritik pengakuan Israel terhadap Somaliland. Riyadh menggambarkan langkah tersebut sebagai upaya membentuk “entitas paralel” di wilayah yang secara resmi masih berada dalam batas negara Somalia.

Beberapa analis melihat rencana tersebut sebagai bagian dari strategi geopolitik Israel yang lebih luas.

Conor Vasey dari perusahaan konsultan J.S. Held mengatakan kemitraan Israel dengan Somaliland sejalan dengan pendekatan lama Israel untuk membangun aliansi di pinggiran kawasan Timur Tengah.

“Bagi Israel, pengakuan terhadap Somaliland menawarkan penyeimbang keamanan terhadap dominasi Houthi di Teluk Aden,” kata Vasey.

Lokasi Somaliland yang berada di sisi selatan Teluk Aden membuat wilayah itu dipandang memiliki nilai strategis bagi pengawasan jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Laut Merah, Terusan Suez, dan Samudra Hindia.