![]() |
| Teza Pahlavi. | NATIONAL PRESS |
Media pemerintah Iran mengonfirmasi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Pengumuman itu segera memicu respons cepat dari tokoh-tokoh oposisi Iran di pengasingan yang melihat peristiwa ini sebagai momentum perubahan politik besar di Teheran.
Putra Mahkota Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran, menyatakan Republik Islam pada dasarnya telah berakhir. Dalam pernyataan di platform X, ia menyebut Khamenei terhapus dari muka sejarah dan menggambarkannya sebagai penguasa lalim haus darah di zaman kita serta pembunuh puluhan ribu putra-putri terbaik Iran.
Ia memperingatkan bahwa upaya menunjuk pengganti Khamenei akan ditakdirkan gagal sejak awal. Menurut dia, siapa pun yang menggantikan posisi tersebut tidak akan memiliki legitimasi maupun masa jabatan panjang dan akan terlibat dalam kejahatan rezim.
Pahlavi juga menyerukan kepada militer, aparat penegak hukum, dan pasukan keamanan Iran untuk bergabung dengan rakyat guna memastikan transisi stabil menuju masa depan yang bebas dan sejahtera. Ia menyebut operasi militer AS-Israel sebagai intervensi kemanusiaan dan meminta warga tetap berada di rumah sambil bersiap untuk kehadiran yang luas dan menentukan di jalanan.
Sikap berbeda disampaikan Maryam Rajavi, presiden terpilih National Council of Resistance of Iran (NCRI). Dalam pesannya kepada publik Iran, ia menyerukan kepada seluruh kekuatan revolusi demokratis agar tetap waspada dan siap.
Rajavi mendesak anggota Islamic Revolutionary Guard Corps dan pasukan keamanan lainnya untuk meletakkan senjata dan menyerah kepada rakyat.
"Jalan kami menuju masa depan dan pembentukan republik demokratis, bukan kembali ke kediktatoran masa lalu yang sudah terkubur," kata Rajavi.
Ia mempromosikan Rencana Sepuluh Poin NCRI yang mencakup pemilu bebas, pemisahan agama dan negara, kesetaraan gender, penghapusan hukuman mati, serta Iran tanpa senjata nuklir. Rajavi juga mengumumkan pembentukan pemerintahan sementara di bawah kerangka NCRI dan menegaskan, "Hanya rakyat Iran yang memiliki legitimasi untuk menentukan masa depan politik negara mereka."
Di dalam negeri, penyiar negara mengumumkan 40 hari berkabung nasional pada Minggu dini hari setelah mengonfirmasi kematian Khamenei. Korps Garda Revolusi Islam menyatakan akan melakukan pembalasan terhadap Israel dan AS.
Laporan dari Teheran menyebut perayaan pecah di sejumlah titik pada Sabtu malam. Sebagian warga terdengar meneriakkan "Mati untuk Republik Islam" dan "Hidup syah". Hingga kini belum ada gambaran menyeluruh mengenai respons publik di berbagai wilayah Iran.
Pernyataan dari dua tokoh oposisi itu kembali menyoroti perbedaan mendasar dalam visi politik mereka. Keduanya sama-sama menyerukan transisi demokratis dan pembelotan aparat keamanan, namun berbeda tajam mengenai bentuk negara setelah berakhirnya Republik Islam.

0Komentar