![]() |
| Presiden RI Prabowo Subianto saat meresmikan Jembatan Bailey dan Jembatan Armco dari Hambalang, Jawa Barat, Senin (9/3/2026). | BPMI SETPRES |
Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat Indonesia bersiap menghadapi potensi kesulitan ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah yang mulai mengguncang pasar energi global.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan 218 jembatan di Aceh pada Senin (9/3/2026). Ia mengatakan gejolak internasional saat ini dapat berdampak pada kondisi ekonomi di dalam negeri.
“Seluruh dunia sedang mengalami goncangan. Akibat perang di Timur Tengah, kita terus terang saja harus siap menghadapi kesulitan,” ujar Prabowo, seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Ia menambahkan pemerintah tidak akan menutup-nutupi kondisi yang dihadapi negara. Menurutnya, pemerintah akan memberikan penjelasan lebih lanjut kepada publik dalam waktu dekat mengenai perkembangan situasi tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik itu memicu gangguan pada jalur energi global, terutama setelah Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Dampaknya cepat terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 20% dan menembus US$114 per barel, level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Gejolak tersebut turut menekan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Senin (9/3), kurs referensi Jisdor Bank Indonesia tercatat melemah 0,32% ke posisi Rp16.974 per dolar AS.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi mengatakan lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan pada anggaran negara. Dalam asumsi makro APBN 2026, harga minyak dipatok sekitar US$70 per barel.
Menurut Ibrahim, selisih harga yang besar dapat meningkatkan beban fiskal pemerintah. Ia memperkirakan tambahan defisit bisa mencapai sekitar Rp6,8 triliun jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama.
Tekanan serupa dirasakan pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Erwin Aksa, mengatakan eskalasi konflik telah mendorong kenaikan biaya operasional di berbagai sektor.
“Dampak paling terasa datang dari kenaikan harga energi, meningkatnya biaya logistik dan asuransi pelayaran, ketidakpastian pasokan bahan baku,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan sejumlah industri yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki struktur biaya energi tinggi berpotensi merasakan dampak paling cepat, meski tidak memiliki hubungan dagang langsung dengan negara-negara Timur Tengah.
Di tengah situasi tersebut, Prabowo menegaskan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi tekanan global, meskipun ia menilai pemerintah perlu bersikap terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi yang ada.
“Kita punya kekuatan yang besar. Tapi juga saya harus jujur kepada seluruh rakyat,” kata Prabowo.
Ia juga menyinggung pentingnya pemberantasan korupsi agar kekayaan negara tidak terus bocor. Menurutnya praktik kolusi antara pejabat dan pengusaha dapat menggerus potensi ekonomi nasional.
Sebelumnya, Prabowo memanggil Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia untuk rapat terbatas di Istana. Pertemuan itu membahas langkah antisipasi pemerintah terhadap dampak krisis geopolitik terhadap pasokan pangan dan energi nasional.

0Komentar