![]() |
| Jet trmpur F-16I Sufa milik Angkatan Udara Israel yang sedang bersiap untuk misi operasional di malam hari. | IDF |
Sepuluh hari setelah dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, pejabat pertahanan Israel mengatakan kampanye tersebut masih membutuhkan waktu setidaknya tiga minggu lagi untuk menghancurkan kemampuan militer Teheran.
Seorang pejabat senior pertahanan Israel mengatakan kepada NPR pada 9 Maret bahwa operasi tersebut menargetkan penghancuran angkatan darat, angkatan laut, serta industri militer Iran. Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim itu juga mengakui bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki kewenangan politik untuk menghentikan operasi kapan saja.
Pernyataan itu muncul ketika konflik yang dimulai pada 28 Februari semakin meluas, menyusul serangkaian serangan udara yang menghantam ratusan target militer di berbagai wilayah Iran.
Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan konfrontasi ini kemungkinan berlangsung lama dan akan menentukan arah masa depan keamanan Israel.
"Konfrontasi ini dapat berlangsung untuk periode yang panjang dan akan menentukan masa depan kami," kata Zamir kepada media internasional.
Pada 5 Maret, Zamir mengumumkan berakhirnya fase awal yang ia sebut sebagai tahap "kejutan", ketika Israel berupaya merebut superioritas udara dan menekan kapasitas rudal balistik Iran. Tahap berikutnya, menurutnya, akan berfokus pada serangan terhadap "pilar-pilar rezim dan kapabilitas militernya".
Operasi tersebut dimulai dengan serangan besar pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior. Sejak saat itu, serangan udara Israel dilaporkan menghantam sasaran di sedikitnya 26 dari 31 provinsi Iran.
Laporan Reuters menyebut fase kedua operasi kini menargetkan fasilitas rudal bawah tanah yang terkubur dalam. Analisis dari Critical Threats Project juga mencatat serangan mulai diarahkan pada basis industri pertahanan Iran, termasuk fasilitas produksi rudal di dekat Teheran.
Meski operasi militer terus berjalan, perbedaan pandangan antara Washington dan Yerusalem mulai terlihat.
Ketegangan muncul setelah Israel menyerang fasilitas minyak Iran akhir pekan lalu. Serangan itu menyebabkan kebakaran besar yang menghitamkan langit di atas Teheran dan memicu kekhawatiran di Washington.
Seorang sumber yang mengetahui pembahasan internal mengatakan kepada NPR bahwa pejabat AS "tidak senang dengan besarnya kerusakan tersebut".
Senator AS Lindsey Graham, sekutu dekat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, juga memperingatkan Israel agar berhati-hati memilih target. Menurutnya, ekonomi minyak Iran kemungkinan masih akan dibutuhkan setelah konflik berakhir atau jika terjadi perubahan pemerintahan di Teheran.
Di Washington, sejumlah pejabat juga meragukan tenggat waktu yang sebelumnya disampaikan Trump, yang menyebut operasi dapat selesai dalam waktu sekitar empat minggu.
Los Angeles Times melaporkan pejabat AS dan Israel secara tertutup memperkirakan kampanye militer tersebut bisa berlangsung berbulan-bulan.
Sebuah analisis dari Brookings Institution menyebut masih menjadi "pertanyaan terbuka apakah Trump akan memiliki kesabaran untuk kampanye yang panjang". Di lapangan, keberhasilan militer Israel belum sepenuhnya diikuti perubahan politik di Iran.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa serangan udara saja jarang menghasilkan pergantian rezim.
"Tidak ada preseden untuk pergantian rezim melalui kampanye udara," kata Brigadir Jenderal (purn.) Eran Ortal.
Iran sendiri telah menunjuk Mojtaba Khamenei—putra dari pemimpin tertinggi yang tewas—sebagai pemimpin baru negara itu. Langkah tersebut dinilai menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran bersiap melanjutkan perlawanan.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga meningkatkan serangan balasan. Media internasional melaporkan penggunaan hulu ledak bom cluster dalam serangan yang menghantam sebuah gedung apartemen di Tel Aviv.
Serangan lain juga dilaporkan menargetkan fasilitas minyak di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Di Israel, seorang wakil penasihat keamanan nasional mengakui bahwa pada awal konflik pihaknya memperkirakan sistem pemerintahan Iran akan mulai melemah lebih cepat.
Ia mengatakan ekspektasi awal adalah pemerintahan Iran akan "mulai runtuh lebih cepat, lebih cepat" dibanding perkembangan yang terjadi saat ini.

0Komentar