![]() |
| Kapal Liaowang-1 (atau Liaowang No. 1), sebuah kapal pengintai elektronik dan pelacak ruang angkasa generasi terbaru milik Tiongkok. |
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendapat dimensi baru setelah sebuah perusahaan kecerdasan buatan asal China mempublikasikan citra satelit terperinci yang memperlihatkan pengerahan militer Amerika Serikat di kawasan. Pada saat yang hampir bersamaan, kapal pengintai canggih Beijing terdeteksi beroperasi di sekitar Teluk Oman, memunculkan dugaan bahwa kemampuan teknologi China ikut berperan dalam memantau pergerakan militer AS di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Perkembangan ini terjadi ketika badan intelijen AS menilai Beijing mungkin tengah mempertimbangkan dukungan tambahan bagi Iran, termasuk komponen yang berkaitan dengan program rudal negara tersebut.
Perusahaan teknologi China, MizarVision, mengunggah serangkaian citra satelit beresolusi tinggi di platform media sosial Weibo. Gambar-gambar itu menampilkan berbagai instalasi militer AS di Timur Tengah, termasuk jenis dan jumlah pesawat tempur serta sistem pertahanan udara yang ditempatkan di sejumlah pangkalan.
Menurut laporan media Israel Ynet, citra tersebut memperlihatkan keberadaan 11 pesawat tempur siluman F-22 di Pangkalan Udara Ovda, Israel.
Gambar lain menunjukkan 18 pesawat F-35 serta enam pesawat perang elektronik EA-18G Growler di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. Sistem pertahanan udara Patriot juga terlihat dipasang di beberapa lokasi.
Publikasi maritim Maritime Executive menggambarkan MizarVision sebagai penerbit “citra beranotasi berkualitas tinggi dari target-target Amerika” yang disajikan sebagai open-source intelligence.
Sebagian besar gambar dasar berasal dari penyedia citra satelit komersial Barat seperti Maxar dan Planet Labs, yang kemudian diproses menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi dan melabeli objek militer.
Di laut, kapal pengintai China Liaowang-1 dilaporkan beroperasi di dekat Teluk Oman. Kapal berbobot sekitar 30.000 ton itu mulai beroperasi pada 2025 dan disebut sebagai salah satu platform pengawasan maritim paling canggih milik Beijing.
Analis pertahanan mengatakan kapal tersebut mampu melacak lebih dari 1.200 target udara dan rudal secara bersamaan, termasuk memantau pergerakan gugus tempur kapal induk AS seperti armada yang dipimpin USS Abraham Lincoln.
Pada saat yang sama, Iran juga diketahui mengalihkan sistem navigasi militernya dari GPS milik AS ke sistem satelit China BeiDou-3. Keputusan ini diambil setelah gangguan GPS pada Juni 2025 dilaporkan sempat menghambat sejumlah operasi militer Iran.
Sistem BeiDou menyediakan akurasi hingga tingkat sentimeter serta memiliki layanan pesan singkat internal yang dapat berfungsi meski jaringan komunikasi lokal terganggu.
Sejumlah laporan intelijen AS yang dikutip CNN juga menyebut China mungkin sedang mempertimbangkan bantuan keuangan serta pasokan komponen yang berkaitan dengan program rudal Iran.
Laporan terpisah dari Reuters pada Februari menyebut Teheran hampir mencapai kesepakatan dengan Beijing untuk memperoleh rudal jelajah anti-kapal supersonik CM-302. Seorang analis Israel menggambarkan sistem tersebut sebagai “pengubah permainan total” yang dapat meningkatkan ancaman terhadap kapal perang di kawasan.
Perhatian juga tertuju pada dua kapal kargo Iran yang berada dalam daftar sanksi internasional. Menurut laporan The Washington Post, kapal Shabdis dan Barzin yang dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines berangkat dari Pelabuhan Gaolan di Zhuhai, China, membawa muatan berat yang diduga mencakup natrium perklorat.
Bahan kimia tersebut merupakan prekursor utama dalam pembuatan bahan bakar roket padat.
Isaac Kardon, senior fellow di Carnegie Endowment for International Peace, mengatakan otoritas China sebenarnya memiliki berbagai cara administratif untuk menahan atau menunda keberangkatan kapal tersebut.
“Tiongkok sebenarnya bisa menahan kapal-kapal ini di pelabuhan, memberlakukan penundaan administratif, membuat alasan pemeriksaan bea cukai — berbagai cara birokratis,” kata Kardon kepada The Washington Post.
Namun langkah tersebut tidak dilakukan. Kardon menyebut keputusan itu sebagai “pilihan kebijakan yang disengaja yang dibuat selama perang aktif berlangsung”.
Sejumlah analis melihat pola kerja sama ini sebagai pembagian peran antara kemampuan intelijen dan pengawasan China dengan kapasitas serangan regional Iran. Teknologi pengamatan berbasis satelit dan laut dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai aktivitas militer AS di kawasan.
Bagi Beijing, hubungan dengan Teheran juga memiliki nilai strategis yang lebih luas. Iran merupakan pemasok energi penting bagi China sekaligus mitra dalam proyek Belt and Road Initiative.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan pihaknya tidak mengetahui adanya pembicaraan mengenai penjualan rudal kepada Iran. Pemerintah China juga menegaskan bahwa mereka secara ketat menerapkan kontrol ekspor terhadap produk dengan kegunaan ganda, baik untuk sipil maupun militer.





0Komentar