Truk dan bagian lain dari sistem pertahanan rudal THAAD di landasan di Korea Selatan. | U.S. FORCES KOREA


Perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran mulai memicu kekhawatiran di kawasan Asia-Pasifik, ketika Washington memindahkan sejumlah aset militernya dari wilayah tersebut ke Timur Tengah. Para pejabat pertahanan di Asia menilai langkah itu berpotensi menciptakan celah dalam kemampuan penangkalan terhadap China dan Korea Utara.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, AS mengalihkan berbagai sistem militer strategis, mulai dari kapal induk hingga pertahanan rudal, ke kawasan Teluk. Pergeseran ini terjadi ketika negara-negara sekutu di Asia Timur dan Asia Tenggara tengah menghadapi meningkatnya aktivitas militer China serta ancaman rudal dari Korea Utara.

Salah satu langkah paling mencolok adalah pengalihan kapal induk USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya melakukan latihan di Laut Tiongkok Selatan dekat Scarborough Shoal. Kapal itu dipindahkan ke Timur Tengah saat ketegangan dengan Iran meningkat, dan kini bergabung dengan USS Gerald R. Ford.

Kehadiran dua kapal induk sekaligus di kawasan tersebut merupakan konfigurasi militer yang relatif jarang digunakan. Laporan juga menyebutkan bahwa kapal induk ketiga, USS George H.W. Bush, berpotensi menyusul jika konflik berkepanjangan.

Pergerakan aset tidak berhenti pada armada laut. The Washington Post melaporkan pada 10 Maret bahwa Pentagon mulai memindahkan komponen sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah. 

Data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat angkut militer C-5 dan C-17 bolak-balik terbang melalui Pangkalan Udara Osan dalam beberapa hari terakhir.

Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun mengatakan kepada anggota parlemen bahwa Seoul dan Washington juga sedang membahas kemungkinan penempatan ulang sistem pertahanan udara Patriot.

Pentagon tidak merinci pergerakan aset tersebut. Namun, menurut laporan Stars and Stripes, militer AS menegaskan bahwa pasukannya di Korea tetap mempertahankan kesiapan tempur.

"Pasukan AS di Korea tetap fokus mempertahankan postur kekuatan yang siap tempur di Semenanjung Korea," kata pernyataan tersebut.

Selain pergeseran pasukan, perang juga mulai menguras cadangan amunisi pertahanan udara AS. Para analis memperingatkan bahwa tingkat penggunaan rudal pencegat dalam konflik ini berlangsung jauh lebih cepat dibanding kemampuan produksi industri pertahanan.

Center for Strategic and International Studies memperkirakan sebelum perang AS memiliki sekitar 1.600 rudal Patriot. Angka itu disebut telah berkurang sejak operasi militer dimulai.

Kelly Grieco, peneliti senior di Stimson Center, mengatakan kepada ABC News bahwa laju penggunaan saat ini berpotensi menghabiskan setengah stok interseptor AS dalam empat hingga lima minggu.

ndustri pertahanan AS berupaya meningkatkan produksi, tetapi prosesnya tidak instan. Lockheed Martin pada 2025 mengirimkan sekitar 620 rudal interseptor PAC-3. Perusahaan tersebut telah menyepakati kerangka kerja untuk meningkatkan produksi hingga sekitar 2.000 unit per tahun, meski kapasitas penuh baru diperkirakan tercapai dalam beberapa tahun.

Kekhawatiran juga muncul terkait persenjataan yang dialokasikan untuk kemungkinan konflik di Selat Taiwan. Nikkei Asia melaporkan bahwa Taiwan saat ini memiliki pesanan senjata dari AS yang belum dipenuhi dengan nilai lebih dari US$20 miliar.

Secara terpisah, NPR melaporkan dua paket penjualan senjata tambahan untuk Taiwan senilai hingga US$14 miliar ditunda di tengah pertimbangan diplomatik menjelang rencana kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing.

Di berbagai ibu kota Asia, sejumlah pejabat pertahanan aktif maupun mantan mulai memperingatkan dampak jangka panjang dari konflik tersebut. Bahkan perang yang relatif singkat dapat menguras persediaan amunisi penting yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.

Situasi ini dinilai berpotensi menciptakan peluang strategis bagi Beijing. South China Morning Post menulis bahwa keterlibatan militer AS yang besar di Timur Tengah "mau tidak mau mengalihkan fokus strategisnya" dari kawasan Indo-Pasifik, sehingga membatasi kemampuan Washington memberi tekanan terhadap China.

Filipina mencoba meredakan kekhawatiran tersebut. Juru bicara Angkatan Laut Roy Vincent Trinidad mengatakan tidak ada tanda bahwa AS menarik aset militer dari Filipina.

Ia menyebut pergerakan pasukan yang dilaporkan terjadi lebih berkaitan dengan pengaturan operasi di kawasan lain.

"Tidak ada indikasi AS menarik aset militer dari Filipina," kata Trinidad, seraya menambahkan bahwa pemindahan pasukan yang dilaporkan merupakan bagian dari "pengaturan teater operasi yang terpisah".