![]() |
| Drone Shahed 136 milik Iran. | SHINGETSU NEWS AGENCY |
Dua minggu setelah dimulainya Operasi Epic Fury, Amerika Serikat mengklaim keberhasilan besar dalam menekan serangan drone Iran. Namun di berbagai negara Teluk, rangkaian serangan masih terus terjadi dan menimbulkan kerusakan pada fasilitas sipil dan infrastruktur penting.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 13 Maret mengatakan kepada CBS News bahwa jumlah serangan drone sekali pakai Iran telah “turun 95%” dibandingkan fase awal konflik.
Menurut Hegseth, tekanan militer AS telah membuat industri pertahanan Iran “secara fungsional sudah kalah”.
Di lapangan, situasinya tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim tersebut. Drone Shahed buatan Iran masih menembus sejumlah sistem pertahanan udara sekutu AS di kawasan Teluk Persia, menyerang bandara, fasilitas energi, hingga pusat data.
Serangan-serangan itu dilaporkan terjadi di sejumlah kota, dari Dubai hingga Kuwait City.
Perang biaya yang tidak seimbang
Banyak analis menilai keberhasilan sebagian drone Iran menembus pertahanan udara terkait dengan persoalan biaya.
Drone Shahed-136 diperkirakan berharga antara US$20.000 hingga US$50.000 per unit. Pesawat nirawak bersayap delta itu memiliki jangkauan hingga sekitar 2.500 kilometer dan biasanya diluncurkan dalam gelombang besar untuk membanjiri sistem pertahanan udara lawan.
Sebaliknya, negara-negara Teluk umumnya mengandalkan sistem pertahanan udara Patriot yang dikembangkan oleh RTX Corporation dan menggunakan rudal pencegat PAC-3 buatan Lockheed Martin.
Setiap rudal PAC-3 diperkirakan bernilai sekitar US$4 juta. Perbedaan harga ini menciptakan rasio biaya hingga 200 banding satu yang menguntungkan Iran.
Para analis menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk perang asimetris di mana senjata murah digunakan untuk menguras sistem pertahanan yang jauh lebih mahal.
Serangan meluas di kawasan Teluk
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan bahwa sejak konflik dimulai pada 28 Februari, pihaknya telah mendeteksi 1.475 drone Iran.
Sebanyak 1.385 di antaranya berhasil dicegat, tetapi sekitar 90 drone tetap mencapai wilayah negara tersebut. Serangan-serangan itu dilaporkan menewaskan enam orang dan melukai sedikitnya 122 orang di berbagai wilayah Emirat.
Beberapa fasilitas penting ikut terdampak, termasuk Bandara Internasional Dubai, hotel Burj Al Arab, pelabuhan Jebel Ali, dan kilang minyak Ruwais yang sempat menghentikan operasi setelah serangan drone terjadi di dekat fasilitas tersebut.
Perusahaan komputasi awan Amazon Web Services juga mengonfirmasi dua pusat datanya di Uni Emirat Arab terkena serangan drone secara langsung, sementara fasilitas lain di Bahrain mengalami kerusakan.
Serangan serupa dilaporkan di negara Teluk lainnya.
Bandara dan depot bahan bakar di Kuwait menjadi sasaran, Bahrain melaporkan kerusakan pada pabrik desalinasi serta bandara internasionalnya, sementara Arab Saudi menutup kilang minyak domestik terbesar setelah serangan drone di sekitarnya.
Qatar juga melaporkan pencegatan drone yang menargetkan pangkalan udara Al-Udeid, instalasi militer terbesar AS di kawasan tersebut.
Pentagon mengembangkan drone tandingan
Menghadapi serangan drone murah yang terus berdatangan, Pentagon mulai mengembangkan pendekatan serupa: melawan drone dengan drone.
Salah satu sistem yang kini digunakan adalah LUCAS (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System), drone tempur murah yang dikembangkan perusahaan teknologi pertahanan SpektreWorks di Arizona.
Sistem itu disebut dirancang dengan mempelajari desain Shahed-136 yang berhasil direbut sebelumnya.
LUCAS diperkirakan menelan biaya sekitar US$35.000 per unit. Desainnya menyerupai drone Iran tetapi dilengkapi konektivitas satelit dan sistem penargetan yang ditingkatkan.
Drone tersebut melakukan debut tempurnya pada 28 Februari saat serangan pembuka Operasi Epic Fury.
Komandan United States Central Command, Laksamana Brad Cooper, menyebut sistem itu “sangat diperlukan” untuk menghadapi gelombang drone murah.
Program drone massal AS
AS juga tengah memperluas produksi drone murah melalui Program Dominasi Drone senilai sekitar US$1 miliar.
Program yang diotorisasi melalui perintah eksekutif Presiden Donald Trump pada Juni 2025 itu menargetkan pengerahan sekitar 340.000 drone serang kecil dalam dua tahun.
Pentagon berharap biaya produksi per unit dapat ditekan dari sekitar US$5.000 menjadi US$2.300 seiring peningkatan skala produksi.
Meski demikian, sejumlah analis menilai sekutu AS di Teluk menghadapi tantangan mendesak dalam mempertahankan sistem pencegat mereka.
Peneliti Atlantic Council, Jo Pelayo, memperingatkan negara-negara sekutu berisiko kehabisan rudal pencegat jika tidak lebih selektif dalam menentukan kapan senjata tersebut digunakan.
“Sekutu berisiko kehabisan pencegat mereka kecuali mereka lebih berhati-hati dalam menentukan kapan harus menggunakannya,” kata Pelayo.

0Komentar