Peluncuran rudal balistik Khorramshahr-4 oleh Iran, 25 Mei 2023. Rudal berbahan bakar cair ini kini disebut sebagai salah satu sistem dalam arsenal Iran yang berakar dari teknologi Korea Utara. | IRANIAN DEFENSE MINISTRY


Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini memasuki pekan kelima menyorot satu fakta yang nyaris luput dari pemberitaan: sebagian besar rudal yang ditembakkan Iran ke arah Israel, pangkalan militer AS di kawasan, hingga percobaan penyerangan terhadap pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia, berakar dari teknologi Korea Utara.

Kerja sama ini bukan produk semalam. Ia lahir saat Perang Iran-Irak, ketika Pyongyang memasok rudal Scud yang membantu Teheran bertahan menghadapi gempuran Saddam Hussein. 

Selama beberapa dekade berikutnya, hubungan ini berkembang menjadi kemitraan strategis penuh, bertahan melewati sanksi, isolasi diplomatik, dan pengawasan internasional yang berulang. 

Dari mana rudal Iran sebenarnya berasal?

Berbagi antipati terhadap Amerika Serikat, Korea Utara adalah salah satu dari sedikit negara yang bersedia menantang kebijakan Barat dengan memasok senjata konvensional ke Iran selama Perang Iran-Irak 1980–1988. Hubungan transaksional itu, pada awal 1990-an, berkembang menjadi kemitraan dalam pengembangan rudal balistik canggih.

Pada dekade 1990-an, program rudal Iran seperti Shahab juga disebut dikembangkan menggunakan teknologi dari rudal Nodong milik Korea Utara. 

Rudal Shahab-3 yang menjadi tulang punggung kekuatan jarak menengah Iran memiliki jangkauan sekitar 1.300 kilometer, dan laporan National Air and Space Intelligence Center pada 2006 mengonfirmasi bahwa rudal tersebut berbasis desain No Dong Korea Utara. 

Rudal jarak jauh Ghadr Iran yang bertuliskan "Ganyang Israel" dalam bahasa Ibrani di Kota Isfahan, Iran, 8 Februari 2023. | AFP

Dari sana, Iran tidak berhenti memodifikasi. Untuk mengatasi keterbatasan keandalan dan jangkauan rudal No Dong yang diimpor, Iran memodifikasi No Dong/Shahab-3 menjadi rudal Ghadr. Varian Emad dan Ghadr yang kini aktif menargetkan Israel dan pangkalan AS merupakan kelanjutan dari garis keturunan yang sama.

Untuk kelas yang lebih berat, pada 2005, koran Jerman Bild melaporkan bahwa Korea Utara menjual 18 rudal Musudan ke Iran. Iran kemudian mengungkap pengembangan variannya sendiri yang disebut Khorramshahr, dengan empat varian yang telah diuji sejak 2017. 

Dalam gambar yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Iran pada Kamis, 25 Mei 2023, sebuah rudal Khorramshahr-4 diluncurkan ke lokasi yang tidak diungkapkan di Iran. | IRANIAN DEFENSE MINISTRY

(NCNK) Rudal Khorramshahr-4, salah satu sistem paling mematikan dalam arsenal Iran saat ini, adalah turunan langsung dari desain Korea Utara itu, dengan modifikasi yang memungkinkan hulu ledak lebih berat dan jangkauan sekitar 2.000 kilometer.

Apa yang diungkap dari serangan Diego Garcia?

Percobaan serangan Iran terhadap Diego Garcia pada 20 Maret lalu membuka babak baru dalam perdebatan soal kemampuan riil Teheran. 

Iran meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke Diego Garcia, pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia, dengan jarak lebih dari 3.000 kilometer dari Iran. 

Kedua rudal tidak menghantam sasaran, namun percobaan ini memperlihatkan bahwa Iran mungkin tidak lagi mematuhi batas jangkauan 2.000 kilometer yang selama ini diklaim secara mandiri. 

Hudson Institute menilai bahwa Iran kemungkinan menggunakan arsitektur berbasis wahana peluncur antariksa (space-launch vehicle) dalam serangan tersebut, bukan Khorramshahr. 

Hambatan teknis utama termasuk kemampuan kendaraan masuk kembali ke atmosfer pada kecepatan tinggi mungkin telah diatasi sebagian melalui pengujian suborbital, eksperimen yang tidak dipublikasikan, atau bantuan teknis eksternal, kemungkinan besar dari Korea Utara. 

Bagaimana kerja sama ini lolos dari sanksi internasional?

Kerja sama ini tidak hanya soal pengiriman rudal jadi, melainkan mencakup rantai pasokan komponen dan keahlian teknis yang terus berjalan. 

parade militer Korea Utara yang menampilkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-15 yang terpasang pada peluncur erektor transporter (TEL) beroda. | KCNA

Sejak 2013, Korea Utara telah mengirimkan komponen untuk pendorong roket 80 ton berbasis mesin RD-250, teknologi yang sama yang menggerakkan ICBM Hwasong-15 milik Pyongyang. Transfer ini berlanjut saat perundingan nuklir 2015, dan Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada kedua negara pada 2016 atas kerja sama tersebut. 

Pada 2015, terungkap bahwa beberapa pengiriman komponen tersebut dari Korea Utara ke Iran telah terjadi bahkan ketika negosiasi JCPOA masih berlangsung. 

Pada 2021, laporan Panel Ahli PBB mengungkap bahwa Korea Utara telah melanjutkan pengiriman nyata teknologi dan suku cadang ke Iran untuk proyek rudal jarak jauh, dengan pengiriman terakhir yang terkait hubungan ini terjadi pada 2020. 

Dua perusahaan cangkang Korea Utara memainkan peran kunci dalam jalur pasokan ini: Korea Mining Development Company dan Green Pine. Keduanya aktif tidak hanya dalam bantuan pengembangan dan penyebaran ICBM Iran, tetapi juga produksi rudal balistik jarak pendek dan menengah, serta proliferasi senjata konvensional ke Iran dan kelompok-kelompok proksinya. 

Apakah teknologi ini sampai ke Hamas dan Hizbullah?

Teknologi Korea Utara tidak berhenti di tangan Teheran. Laporan Jerusalem Post pada Januari 2024 menyebutkan bahwa selama perang di Gaza, IDF menemukan senjata produksi Korea Utara dalam jumlah besar. 

National Intelligence Service Korea Selatan mengonfirmasi temuan tersebut, mengidentifikasi granat berpeluncur roket F-7 dan peluru artileri Bang-122 buatan Korea Utara yang digunakan Hamas. 

Bahkan pada 2014, sebuah pengadilan distrik AS memutuskan bahwa Korea Utara dan Iran sama-sama bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan Hizbullah dalam perang 2006 di Israel, karena keduanya memberikan "dukungan dan bantuan material" kepada kelompok tersebut. 

Kontribusi militer Korea Utara ke Iran juga mencakup armada angkatan laut; kapal selam kelas Ghair Iran merupakan salinan berlisensi dari kapal selam kelas Yono milik Pyongyang. 

Apa yang dipertaruhkan Pyongyang?

Potensi runtuhnya Iran akan merugikan Korea Utara secara signifikan. 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berada di lokasi yang belum dikonfirmasi di Korea Utara. | KCNA

Sekitar US$3 miliar per tahun yang mengalir dari Teheran selama ini turut menopang rezim Kim. Rusia kini membayar lebih besar, sekitar US$20 miliar per tahun untuk senjata yang digunakan dalam perang di Ukraina, tetapi kehilangan pendapatan dari Iran tetap terasa.

Di sisi lain, perang ini memberikan pelajaran geopolitik yang kuat bagi Pyongyang. Perang ini kemungkinan menanamkan pada Kim Jong Un persepsi kuat bahwa Khamenei "tidak berdaya karena tidak memiliki senjata nuklir" dan bahwa negosiasi dengan AS tidak menjamin kelangsungan hidup rezim. Hal itu diprediksi akan memperkuat tekad Korea Utara untuk tidak melepaskan program nuklirnya.

Akankah kerja sama ini berlanjut?

Analis senior di Korea Institute for National Security (KINU), Cho Han-bum, menilai bahwa Korea Utara dan Iran kemungkinan akan kembali bekerja sama dalam pengembangan rudal serta pembangunan kembali fasilitas pengayaan uranium begitu konflik mereda, karena Iran merasa sangat perlu memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan berskala besar. 

Peneliti senior KINU, Oh Gyeong-seob, menambahkan bahwa sanksi internasional membuat Iran memiliki sangat sedikit alternatif selain Korea Utara dan Rusia untuk impor senjata. Menurutnya, sangat kuat dugaan bahwa kemajuan Iran dalam pengembangan rudal dan teknologi nuklir mendapat bantuan dari Korea Utara. 

Bechtol, yang mendokumentasikan kemitraan ini dalam buku Rogue Allies (University Press of Kentucky, 2025), menyimpulkan bahwa jawabannya bukan apakah kerja sama itu akan berlanjut, melainkan seberapa cepat dan dalam kapasitas apa ia akan dipulihkan. 

Selama dua sistem nilai saling berbagi musuh yang sama dan selama sanksi internasional terus mendorong keduanya ke dalam pelukan satu sama lain rantai pasokan Pyongyang ke Teheran kemungkinan akan tetap beroperasi, apa pun hasil perang ini.