Kapal pengangkut LNG (Liquefied Natural Gas) yang sedang didampingi oleh kapal tunda. | AP PHOTO


Tekanan di pasar energi global akibat konflik di Asia Barat menyorot ketahanan sejumlah ekonomi Asia. Analis dari JP Morgan dan QNB Economics menilai China dan Malaysia berada di posisi paling siap menghadapi gejolak, ketika banyak negara lain justru menghadapi kerentanan yang meningkat.

Penilaian itu muncul di tengah lonjakan harga minyak dan gas yang mulai memicu tekanan inflasi serta biaya impor di kawasan. Negara dengan ketergantungan tinggi pada energi impor dan cadangan terbatas dinilai paling cepat terdampak, terutama ketika gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Buffer struktural China

Dalam wawancara dengan CNBC pekan lalu, kepala divisi Asia sekaligus salah satu kepala strategi ekuitas pasar negara berkembang global JP Morgan, Rajiv Batra, menyoroti struktur energi domestik China yang relatif mandiri. 

Ketergantungan pada impor untuk pembangkit listrik hanya sekitar 5%, dengan pasokan utama berasal dari batu bara domestik dan energi terbarukan.

China juga dinilai memiliki fleksibilitas untuk meningkatkan konsumsi batu bara saat pasokan energi global terganggu. Kemampuan ini menjadi bantalan yang tidak dimiliki sebagian besar negara Asia lain.

QNB Economics dalam laporan tertanggal 27 Maret memperkuat gambaran tersebut. Sekitar 90% konsumsi batu bara China berasal dari produksi dalam negeri, memberi otoritas kontrol langsung atas pasokan dan harga. Untuk gas alam, hampir setengah impor China datang dari kontrak pipa jangka panjang dengan Turkmenistan dan Rusia, sehingga lebih terlindungi dari fluktuasi pasar spot.

Cadangan minyak juga menjadi faktor kunci. QNB mencatat China menyimpan sekitar 1,3 miliar barel minyak mentah, setara sekitar empat bulan kebutuhan impor. Cadangan ini sebagian besar dikumpulkan saat harga global masih rendah dan pernah digunakan untuk menahan lonjakan harga domestik.

Keunggulan Malaysia sebagai eksportir

Selain China, Malaysia disebut memiliki ketahanan relatif kuat. Status sebagai eksportir energi neto memberi ruang perlindungan alami terhadap kenaikan harga global.

Batra menyebut stabilitas fiskal turut memperkuat posisi negara tersebut. “Defisit fiskal Malaysia sangat terkendali dengan baik berkat kebijakan pemerintah dan inflasi tidak terlalu tinggi,” ujarnya, seperti dikutip kantor berita Bernama.

Kondisi ini dinilai menopang pasar saham dan mata uang Malaysia di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Kerentanan di negara lain

Analisis ING menunjukkan tekanan paling awal muncul di negara dengan cadangan energi terbatas dan ketergantungan impor tinggi. Thailand, Filipina, dan Korea Selatan disebut paling rentan terhadap kenaikan harga minyak mentah.

Indonesia juga masuk dalam kelompok berisiko, dengan cadangan yang hanya cukup untuk sekitar 25 hari kebutuhan. Keterbatasan ini membuat transmisi kenaikan harga global ke dalam negeri berlangsung lebih cepat.

Batra mengingatkan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan potensi skenario terburuk. Gangguan berkepanjangan pada rantai pasok minyak dan gas berisiko menjalar ke sektor lain, termasuk keuangan dan layanan kesehatan.