Pesawat militer Amerika Serikat jenis C-17 Globemaster III melakukan operasi airdrop untuk menjatuhkan bantuan kemanusiaan ke wilayah sulit dijangkau, termasuk Jalur Gaza, guna menyalurkan pasokan penting dan mencegah kelaparan.

Ketika perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus berlanjut, Pentagon mulai menyiapkan opsi eskalasi yang jauh melampaui kampanye udara. Perencana militer AS kini menyusun skenario operasi darat terbatas hingga penyitaan pulau strategis Iran di Teluk Persia, menandai kemungkinan perubahan besar arah konflik.

Kementerian Pertahanan AS menyatakan lebih dari 10.000 target militer Iran telah diserang sejak Operasi Epic Fury dimulai pada 28 Februari. Serangan tersebut mencakup fasilitas militer, infrastruktur logistik, serta titik pertahanan yang dinilai menopang kemampuan tempur Teheran.

Opsi “pukulan akhir”

Laporan Axios menyebut Pentagon tengah mengembangkan empat opsi utama yang oleh pejabat pertahanan disebut sebagai rencana “pukulan akhir” untuk mengakhiri perang. 

Salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah invasi atau blokade Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90% pengiriman minyak mentah negara itu.

Pilihan lain mencakup perebutan Pulau Larak, posisi strategis yang memperkuat kendali Iran atas Selat Hormuz, serta operasi militer di Pulau Abu Musa dan dua pulau kecil di pintu masuk barat jalur pelayaran tersebut. Opsi tambahan melibatkan pencegatan kapal pengangkut minyak Iran di luar titik sempit Hormuz guna menekan pendapatan energi Teheran.

Selain operasi maritim, militer AS juga menyiapkan rencana kontingensi operasi darat jauh ke wilayah Iran untuk mengamankan uranium yang diperkaya tinggi di fasilitas nuklir. Serangan udara skala besar tetap menjadi alternatif jika operasi darat dinilai terlalu berisiko.

Seorang pejabat Gedung Putih menggambarkan opsi darat sebagai langkah yang masih “hipotetis”. Namun sumber yang dikutip Axios menyebut Presiden Donald Trump “siap meningkatkan eskalasi” apabila jalur diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Pengerahan pasukan meningkat

Menurut laporan The Wall Street Journal, Pentagon sedang mempertimbangkan pengerahan tambahan hingga 10.000 personel darat ke Timur Tengah. Pasukan itu akan melengkapi sekitar 5.000 Marinir dan unit Divisi Lintas Udara ke-82 yang sebelumnya telah ditempatkan di kawasan tersebut.

Unit infanteri dan lapis baja direncanakan berada dalam jangkauan operasional Iran dan Pulau Kharg, memperkuat kesiapan jika operasi darat benar-benar diluncurkan.

Respons Teheran muncul cepat. Media pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan mobilisasi lebih dari satu juta pejuang sebagai persiapan menghadapi kemungkinan invasi darat. Arus relawan muda disebut meningkat untuk bergabung dengan milisi Basij, Korps Garda Revolusi Islam, dan angkatan darat reguler.

Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, komandan pasukan darat Iran, memperingatkan bahwa konflik di darat akan membawa konsekuensi berat bagi lawan. 

“Perang darat akan lebih berbahaya dan mahal bagi musuh,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa seluruh pergerakan militer di perbatasan terus dipantau.

Diplomasi tertahan

Perencanaan militer berlangsung bersamaan dengan upaya diplomasi yang belum menunjukkan kemajuan berarti. Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat rencana serangan terhadap sektor energi Iran hingga 6 April untuk memberi ruang negosiasi, dengan Pakistan berperan sebagai mediator.

Namun Teheran menolak proposal perdamaian 15 poin yang diajukan Washington dan membantah adanya pembicaraan langsung. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak berniat mengikuti “negosiasi apa pun”.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt sebelumnya memperingatkan bahwa Trump “tidak pernah main-main dan siap melepaskan neraka” jika diplomasi gagal menghentikan konflik.