Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. | KEMENTAN

Pemerintah mengklaim cadangan beras nasional berada pada level aman untuk menghadapi potensi gangguan iklim tahun ini. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut stok saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan, bahkan ketika fenomena El Nino diperkirakan menguat mulai April 2026.

Pernyataan itu disampaikan Amran usai membuka Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar, Kamis (26/3). Ia menegaskan ketersediaan beras tidak hanya berada di gudang Perum Bulog, tetapi juga tersebar di lapangan.

“Stok kita, cadangan di gudang Bulog, di lapangan, itu cukup untuk 10 bulan ke depan. Jika dari Maret ini, maka hingga Desember cukup,” ujar Amran.

Klaim tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap dampak El Nino terhadap produksi pangan. Fenomena ini kerap memicu penurunan curah hujan dan berujung pada kekeringan di sejumlah sentra produksi beras.

Amran memaparkan, stok beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 4,2 juta ton dan diproyeksikan naik menjadi 5 juta ton dalam waktu dekat seiring panen raya. Ia memperkirakan produksi beras bisa mencapai minimal dua juta ton per bulan dalam tujuh bulan ke depan, sehingga total cadangan berpotensi menembus 14 juta ton dan mencukupi hingga pertengahan 2027.

Untuk menekan risiko kekeringan, Kementerian Pertanian memperluas program pompanisasi yang tahun lalu menjangkau 1,2 juta hektare lahan. Tahun ini, cakupannya ditargetkan bertambah satu juta hektare. Pemerintah juga mendorong penggunaan varietas padi tahan kering serta percepatan masa tanam di wilayah rawan.

Di sisi lain, proyeksi ilmiah terkait El Nino menunjukkan variasi pandangan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan fenomena El Nino berkekuatan besar akan berlangsung dari April hingga Oktober 2026. Kondisi ini diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi memperpanjang musim kemarau.

Profesor Riset BRIN Erma Yulihastin menyebut dampaknya tidak merata. Wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur diprediksi mengalami kemarau ekstrem, sementara sebagian Sulawesi dan Maluku justru berpotensi diguyur hujan lebat disertai risiko banjir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan penilaian berbeda. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menilai istilah “Godzilla” yang beredar untuk menggambarkan El Nino tidak dikenal dalam klasifikasi ilmiah.

“Kategori El Nino hanya El Nino lemah, moderat, dan kuat. Saat ini prediksi resmi BMKG adalah peluang 50–60% El Nino lemah hingga moderat setelah semester kedua,” ujar Ardhasena kepada CNN Indonesia.

Amran merujuk pengalaman Indonesia menghadapi El Nino kuat pada 2023. Saat itu, rencana impor beras sebesar 10 juta ton ditekan menjadi sekitar tiga juta ton melalui berbagai langkah mitigasi, termasuk intervensi produksi dan distribusi.