![]() |
| jet tempur Shenyang J-5 (juga dikenal sebagai F-5 untuk versi ekspor) milik China Aviation Museum di Beijing. |
Tiongkok menempatkan lebih dari 200 jet tempur era Perang Dingin yang telah diubah menjadi drone serang di sejumlah pangkalan udara dekat Selat Taiwan. Pengerahan ini, menurut laporan lembaga riset pertahanan Amerika Serikat, mencerminkan pendekatan baru Beijing dalam menyiapkan operasi udara skala besar di sekitar pulau tersebut.
Laporan terbaru Mitchell Institute for Aerospace Studies bertajuk China Airpower Tracker menyebut armada drone itu ditempatkan di enam pangkalan garis depan—lima di Provinsi Fujian dan satu di Guangdong—yang posisinya relatif dekat dengan garis median Selat Taiwan. Temuan didasarkan pada analisis citra satelit serta intelijen sumber terbuka.
Armada lama, fungsi baru
Pesawat yang dialihfungsikan diidentifikasi sebagai J-6, jet tempur bermesin ganda turunan MiG-19 buatan Soviet pada 1950-an. Pesawat ini pernah menjadi tulang punggung angkatan udara Tiongkok hingga pertengahan 1990-an sebelum dipensiunkan.
Menurut laporan tersebut, varian drone yang dikenal sebagai J-6W telah dimodifikasi dengan sistem kontrol penerbangan otomatis dan navigasi penyesuaian medan. Versi ini sempat dipamerkan dalam Changchun Air Show pada September tahun lalu, dengan papan informasi resmi yang menyebutnya sebagai versi modifikasi dari jet tempur lama.
J. Michael Dahm, senior fellow di Mitchell Institute sekaligus mantan petugas intelijen angkatan laut AS, mengatakan lebih dari 500 pesawat diperkirakan telah dikonversi menjadi drone, dan sedikitnya 200 di antaranya kini berada di pangkalan garis depan.
Drone tersebut, kata Dahm kepada Reuters, tidak dirancang seperti UAV pengintai konvensional.
“Mereka akan berfungsi lebih seperti rudal jelajah,” ujarnya. “Mereka akan menyerang target Taiwan, AS, atau sekutu dalam jumlah besar, yang secara efektif melumpuhkan pertahanan udara.”
Ia menambahkan konsep operasionalnya adalah meluncurkan drone dalam jumlah besar pada jam-jam awal operasi militer.
Ketimpangan biaya pertahanan
Pejabat keamanan senior Taiwan yang dikutip dalam laporan menyebut tujuan utama pengerahan itu adalah menciptakan tekanan ekonomi dan operasional pada sistem pertahanan udara pulau tersebut. Drone murah diharapkan memaksa Taiwan menggunakan rudal pencegat bernilai tinggi untuk menembak jatuh platform lama yang relatif murah.
Strategi ini dinilai membuka celah bagi pesawat tempur generasi baru Tiongkok, termasuk J-20, untuk beroperasi setelah sistem pertahanan lawan terkuras.
Dalam laporan kepada parlemen minggu ini, kementerian pertahanan Taiwan menyatakan sedang mempercepat akuisisi sistem penangkal drone baru. Taipei juga mengembangkan pertahanan udara berbasis kecerdasan buatan melalui inisiatif yang dikenal sebagai “T-Dome”.
Bagian dari pola aktivitas lebih luas
Temuan Mitchell Institute muncul di tengah peningkatan aktivitas drone militer Tiongkok di sekitar kawasan. Pada Februari lalu, Reuters melaporkan sebuah drone militer besar Tiongkok melakukan penerbangan di atas Laut Tiongkok Selatan sambil memancarkan sinyal transponder palsu, yang oleh analis keamanan dianggap sebagai simulasi operasi masa depan.
Drone J-6 yang dikonversi menjadi bagian dari ekspansi kekuatan udara Beijing yang lebih luas, mencakup pengebom jarak jauh, rudal balistik dan jelajah, pesawat tempur modern, serta pengembangan kawanan UAV canggih.
Dahm mencatat bahwa pangkalan udara depan tempat drone ditempatkan juga berpotensi menjadi target serangan balasan. Karena itu, rencana operasional disebut menekankan peluncuran seluruh armada drone pada fase pembukaan operasi militer.

0Komentar