Sebuah F/A-18F Super Hornet diluncurkan dari kapal induk USS George Washington (CVN 73) selama Tinjauan Armada Internasional Indonesia, yang memperingati ulang tahun ke-64 kemerdekaan Indonesia. | U.S. NAVY


Enam hari setelah kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai, kemampuan rudal balistik Teheran dilaporkan menyusut tajam. Serangan udara yang menargetkan fasilitas peluncur dan infrastruktur militer Iran disebut telah mengikis sebagian besar kemampuan peluncuran rudal negara itu dalam waktu singkat.

Penilaian terbaru dari Jewish Institute for National Security of America (JINSA) yang dirilis Rabu (4/3) menyebut peluncuran rudal balistik Iran turun hingga 97% dibandingkan hari pertama konflik. Pada hari yang sama, Pentagon menyampaikan angka yang sedikit berbeda namun tetap signifikan, yakni penurunan sekitar 86%.

Operasi militer tersebut dijalankan melalui dua kampanye terkoordinasi: Operation Epic Fury oleh Amerika Serikat dan Operation Roaring Lion oleh Israel. Menurut sejumlah pejabat militer AS, rangkaian serangan udara dan rudal presisi telah menghancurkan sekitar 75% peluncur rudal Iran sebelum perang, termasuk sekitar 300 dari total sekitar 400 peluncur mobile yang dimiliki negara itu.

Serangan juga menargetkan ratusan rudal serta infrastruktur pendukung yang diperlukan untuk mengoperasikan sistem peluncuran tersebut.

Selama bertahun-tahun, Iran mengembangkan jaringan fasilitas bawah tanah luas yang dikenal sebagai “kota rudal”. Kompleks ini dibangun ratusan meter di dalam pegunungan dengan tujuan melindungi persenjataan dari serangan udara.

Namun strategi itu kini justru menjadi titik lemah. Laporan The Wall Street Journal menyebut pesawat tempur AS dan Israel kini berpatroli di atas lokasi-lokasi yang telah diketahui dan menyerang peluncur rudal begitu mereka keluar dari terowongan untuk melakukan peluncuran.

Dalam sejumlah kasus, serangan udara juga diarahkan langsung ke pintu masuk terowongan guna menyegel fasilitas bawah tanah tersebut.

Citra satelit yang dirilis perusahaan seperti Planet Labs dan Vantor menunjukkan kerusakan di beberapa pangkalan militer Iran, termasuk peluncur yang hancur, terowongan runtuh, serta fasilitas yang rusak di wilayah sekitar Isfahan, Tabriz, Kermanshah, Shiraz, Khorramabad, dan Haji Abad.

Analis dari Foundation for Defense of Democracies menilai kemampuan yang masih dimiliki Iran kini lebih tepat disebut sebagai “kemampuan peluncuran yang bertahan” daripada kekuatan ofensif yang berfungsi penuh.

Data peluncuran rudal selama beberapa hari terakhir memperlihatkan penurunan yang tajam. Iran menembakkan sekitar 504 rudal balistik pada hari pertama perang, 28 Februari, dengan sasaran Israel, negara-negara Teluk, serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Lima hari kemudian, jumlah peluncuran dilaporkan turun drastis menjadi hanya 29 rudal.

Data yang dipublikasikan kementerian pertahanan Uni Emirat Arab juga menunjukkan tren serupa. Pada 28 Februari, sebanyak 137 rudal balistik Iran disebut menargetkan wilayah Emirat. Angka itu turun menjadi hanya tiga peluncuran pada 4 Maret.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan kepada wartawan di Pentagon bahwa pasukan AS telah menyerang lebih dari 2.000 target sejak operasi dimulai. Ia juga menyebut penggunaan drone serang sekali pakai oleh Iran menurun sekitar 73%.

Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, mengatakan pada 3 Maret bahwa kemampuan Iran untuk melancarkan serangan terhadap pasukan AS dan sekutunya terus melemah.

"kemampuan Iran untuk menyerang kami dan mitra-mitra kami sedang menurun", ujarnya.

Penilaian JINSA memperingatkan Iran kemungkinan masih akan mencoba meluncurkan serangan dalam skala terbatas dengan sisa persenjataan yang ada. Opsi lain yang disebut termasuk peningkatan penggunaan drone serta serangan melalui kelompok proksi regional seperti Hezbollah dan Houthi.

Namun laporan itu juga mencatat setiap peluncuran rudal yang dilakukan Iran berisiko membuka posisi peluncur yang tersisa, sehingga memudahkan pasukan AS dan Israel untuk mendeteksi dan menghancurkannya.